Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 13 Mei 2026
home masjid detail berita

Sejarah Islam Nusantara: Sketsa dari Aceh dan Lombok

miftah yusufpati Kamis, 30 Oktober 2025 - 17:00 WIB
Sejarah Islam Nusantara: Sketsa dari Aceh dan Lombok
Dari zikir yang mengguncang lantai di Aceh hingga doa sunyi di Lombok, kisah kolonial Belanda dan Islam Nusantara tersisa sebagai potret paradoks. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Aceh 1891. Di sebuah malam yang hanya diterangi cahaya obor, sekelompok lelaki Aceh duduk melingkar di lantai bambu. Mereka bergerak serempak, kepala menunduk dan mendongak mengikuti irama zikir: “la kaoula oula kouata bi Allah”—“hanya dengan Tuhan-lah daya dan kekuatan.”

Gerakan mereka makin cepat, tubuh-tubuh berayun seperti gelombang hitam yang hidup, sampai akhirnya mereka serentak menubruk lantai sambil berseru: “la ilaha illallah.”

Bagi seorang peneliti Belanda yang menulis laporan berjudul Mohammedaansche-godsdienstige broederschappen pada 1891, pemandangan itu “fantastik sekaligus menakutkan.” Tapi bagi orang Aceh, itulah cara mereka berzikir—menyatu dengan Tuhan di tengah perang yang tak pernah usai.

Delapan belas tahun setelah ekspedisi pertama ke Aceh, Belanda masih gagal menaklukkan negeri yang mereka sebut “negara bajak laut” itu. Di balik garis konsentrasi—serangkaian pos bersenjata di pesisir utara Sumatra—para ulama dan panglima perang terus bertahan di pedalaman.

Di titik inilah Christiaan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang pernah menyamar di Mekah dengan nama ‘Abd al-Ghaffar, datang ke Aceh. Ia dikirim bukan hanya sebagai peneliti, tapi juga sebagai arsitek strategi penaklukan.

Snouck mencatat dengan teliti: praktik tarekat, silsilah sufi, hingga zikir yang ia sebut “menyerupai hiburan publik.” Tapi di balik bahasa ilmiahnya, Laffan membaca ironi: Snouck sedang mendokumentasikan sebuah masyarakat agar bisa memberangusnya.

Dalam bukunya The Achehnese (1906), Snouck menilai Aceh telah “merosot” sejak masa Sultan Iskandar Muda. Ia menulis, istana kehilangan kuasa, sultan berubah menjadi panglima lokal. Tapi dari catatan yang sama, kita tahu bahwa Snouck juga mempelajari filsafat tasawuf Aceh—dari Hamzah Fansuri yang panteistik, hingga Nuruddin ar-Raniri yang keras terhadap “ajaran menyimpang.”

Bagi Laffan, di sinilah paradoks kolonialisme: “Menaklukkan tubuh, sambil berusaha memahami jiwa yang dilawannya.”

Hasan Mustafa, Ulama di Antara Dua Dunia

Dalam penelitiannya, Snouck tak bekerja sendiri. Ia bergantung pada jaringan informan pribumi, salah satunya Hasan Mustafa, seorang ulama Sunda yang diangkat sebagai Penghulu Kepala di Aceh pada 1893. Hasan menjadi mata dan telinga Snouck, melaporkan pergerakan tokoh-tokoh seperti Teuku Umar hingga aktivitas tarekat di pedalaman.

Namun, keterlibatan Hasan Mustafa memunculkan kecurigaan. Ia dituduh “terlalu dekat” dengan Belanda, hingga akhirnya diselidiki. Dalam pembelaannya, Hasan menulis risalah panjang yang berisi fatwa: umat Islam wajib setia pada negara selama tidak menghalangi ibadahnya. Ia juga menasihati para sejawat agar hati-hati menghadapi pengawas Eropa—“terjemahkan, tapi jangan ubah substansi.”

Bagi Laffan, Hasan Mustafa mencerminkan dilema kaum terdidik Muslim di masa kolonial: menjadi penerjemah bagi dua dunia yang tak saling memahami.

Dari Aceh ke Lombok: Sufi dan Senjata

Jika di ujung barat Nusantara Islam menjadi simbol perlawanan, di ujung timur justru sebaliknya. Pada 1894, pemerintah kolonial menggunakan dalih “membela kaum Muslim Sasak” untuk menyerbu Lombok. Pemberontakan kaum Sasak terhadap tuan Bali dimanfaatkan Belanda sebagai misi kemanusiaan—meski di baliknya tersimpan motif dagang dan ambisi militer.

Laffan menulis, ironinya terletak di sini: tokoh-tokoh Sufi lokal seperti Guru Bangkol, murid ‘Abd al-Karim Banten, justru menjadi pihak yang meminta bantuan Belanda. Jaringan *Qadiriyyah wa-Naqsyabandiyyah* yang semula melawan kolonialisme akhirnya terseret dalam politik lokal dan pecah belah.

“Bagi Belanda,” tulis Laffan, “tarekat tidak lagi tampak sebagai ancaman, karena sudah diserap ke dalam sistem kekuasaan.”

Sketsa yang Tersisa

Dari Aceh yang berdarah hingga Lombok yang diperdaya, Snouck mengumpulkan sketsa: gambar masjid, istana, bahkan sosok wali yang memegang tombak. Lukisan itu dikirim ke Batavia untuk dikaji sang “mufti Belanda”—‘Abd al-Ghaffar, alias dirinya sendiri.

Laffan menyebut potongan-potongan ini sebagai “sketsa kebingungan kolonial”: antara rasa ingin tahu dan nafsu menguasai.

“Belanda,” tulis Laffan, “mempelajari Islam untuk menaklukkannya. Tapi dalam proses itu, mereka justru memantulkan bayangan diri mereka sendiri—sebuah kekuasaan tanpa pemahaman.”

Dari ratib Aceh yang mengguncang lantai hingga doa-doa sunyi di Lombok, Islam di Nusantara tumbuh dalam ruang yang tak pernah sepenuhnya dikuasai siapa pun.

Snouck menulis, mencatat, dan menilai—tapi di sela-sela arsip kolonial yang kering, masih terdengar gema zikir yang sama: “La ilaha illallah.”

Dan seperti yang ditulis Michael Laffan, “Di situlah letak ketahanan Islam di Nusantara: bukan pada kekuatan senjata, melainkan pada kemampuan bahasa dan iman untuk bertahan melintasi kekuasaan.”

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 13 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:52
Ashar
15:13
Maghrib
17:47
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)