home masjid

Tujuan Waktu: Pelajaran dari Langit dan Lintasan Manusia

Rabu, 05 November 2025 - 06:08 WIB
Waktu yang terus berjalan, agar manusia belajar, bersyukur, dan mempersiapkan esok. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di suatu malam di Madinah, beberapa sahabat Nabi memandangi langit. Bulan tampak bergeser bentuk, dari sabit ke purnama, lalu memudar kembali. “Mengapa demikian?” tanya mereka. Nabi tak menjawab langsung; Al-Qur’anlah yang turun membawa penjelasan: “Yang demikian itu adalah waktu-waktu untuk manusia dan untuk menetapkan waktu ibadah haji.” (QS Al-Baqarah [2]: 189).

Ayat ini, menurut Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran, bukan sekadar menjelaskan fenomena astronomi. Ia menunjukkan bahwa peredaran matahari dan bulan adalah tanda yang harus dimanfaatkan manusia untuk menyelesaikan tugas-tugas hidupnya. Waktu, dalam pandangan Islam, bukan ruang kosong yang dilalui begitu saja. Ia adalah sistem penanda, alat ukur bagi kerja, ibadah, dan kesadaran.

Bagi Quraish Shihab, perubahan wajah bulan juga metafora bagi perjalanan manusia. Seperti bulan, manusia pernah “tidak tampak” di pentas bumi, kemudian lahir kecil, tumbuh, bersinar di puncak umur, lalu menua dan lenyap. Dalam siklus itu, waktu menjadi cermin eksistensi—ia mengingatkan bahwa hidup adalah rangkaian “datang dan pergi” yang tak berhenti berputar. “Dia menjadikan malam dan siang silih berganti untuk memberi waktu kepada orang yang ingin mengingat atau orang yang ingin bersyukur.” (QS Al-Furqan [25]: 62).

Dua kata kunci muncul dalam ayat itu: mengingat dan bersyukur. Mengingat berarti menoleh ke masa lalu, menimbang apa yang telah terjadi, mengoreksi kesalahan, memperbaiki langkah. Bersyukur berarti menggunakan segala potensi yang diberikan Tuhan untuk tujuan yang benar—kerja keras, bukan sekadar kata pujian.

Dengan demikian, malam dan siang bukan hanya penanda waktu biologis. Ia juga ruang kontemplasi spiritual: kesempatan bagi manusia untuk menengok ke belakang sekaligus menatap ke depan.

Dari Masa Lalu ke Hari Esok

Al-Qur’an berkali-kali menutup kisah masa lalu dengan seruan yang sama: “Maka ambillah pelajaran dari peristiwa itu.” (lihat QS Yusuf [12]: 111). Sementara dalam hal masa depan, ia memerintahkan manusia berpikir dan menilai: apa yang telah disiapkan untuk hari esoknya?
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya