Al-Qur’an dan Estetika Kehidupan: Antara Manfaat dan Keindahan
Miftah yusufpati
Jum'at, 07 November 2025 - 16:15 WIB
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Foto/Ilustrasi: MEE
LANGIT7.ID-Dalam kehidupan modern yang serba utilitarian—serba guna, serba fungsi—ajaran Islam justru mengingatkan manusia untuk tidak kehilangan rasa keindahan. Bagi Syaikh Yusuf al-Qardhawi, ulama Mesir yang dikenal moderat, Al-Qur’an sejak awal telah menegaskan bahwa ciptaan Allah tidak hanya bermanfaat, tetapi juga indah.
“Apabila jiwa seni itu adalah bagaimana merasakan adanya keindahan dan menghayatinya,” tulis Qardhawi dalam Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah(Citra Islami Press, 1997), “maka itulah yang diingatkan oleh Al-Qur’an untuk diperhatikan.”
Ia menukil ayat An-Nahl:5–6 tentang ternak: satu ayat menjelaskan manfaatnya, satu lagi memaparkan keindahan ketika hewan-hewan itu kembali ke kandang. Bagi Qardhawi, dua ayat berurutan itu adalah cermin keseimbangan—antara “fungsi” dan “rasa”, antara “akal” dan “jiwa”.
Dalam An-Nahl:8, Al-Qur’an menyebut kuda, bagal, dan keledai bukan hanya alat transportasi, tapi juga perhiasan. “Menungganginya menghasilkan manfaat, sedangkan keindahannya menjadi kenikmatan tersendiri,” tulis Qardhawi. Begitu pula laut (An-Nahl:14), yang memberi ikan untuk jasad dan mutiara untuk jiwa.
“Allah mengajarkan manusia agar menikmati keindahan tanpa berlebih-lebihan,” tulisnya. Ayat Al-A’raf:31—“makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan”—menjadi pengingat bahwa keindahan tidak boleh menjerumuskan ke kesia-siaan.
Pandangan ini menegaskan dimensi spiritual dari estetika. Bukan hanya tentang bentuk, tetapi juga tentang kesadaran bahwa keindahan adalah tanda kebesaran Tuhan. Dalam bahasa Qardhawi, Zinatullah—hiasan Allah—adalah bukti bahwa seni bukan sekadar ciptaan manusia, melainkan gema dari keindahan ilahi.
Antara Keindahan dan Ketaqwaan
“Apabila jiwa seni itu adalah bagaimana merasakan adanya keindahan dan menghayatinya,” tulis Qardhawi dalam Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah(Citra Islami Press, 1997), “maka itulah yang diingatkan oleh Al-Qur’an untuk diperhatikan.”
Ia menukil ayat An-Nahl:5–6 tentang ternak: satu ayat menjelaskan manfaatnya, satu lagi memaparkan keindahan ketika hewan-hewan itu kembali ke kandang. Bagi Qardhawi, dua ayat berurutan itu adalah cermin keseimbangan—antara “fungsi” dan “rasa”, antara “akal” dan “jiwa”.
Dalam An-Nahl:8, Al-Qur’an menyebut kuda, bagal, dan keledai bukan hanya alat transportasi, tapi juga perhiasan. “Menungganginya menghasilkan manfaat, sedangkan keindahannya menjadi kenikmatan tersendiri,” tulis Qardhawi. Begitu pula laut (An-Nahl:14), yang memberi ikan untuk jasad dan mutiara untuk jiwa.
“Allah mengajarkan manusia agar menikmati keindahan tanpa berlebih-lebihan,” tulisnya. Ayat Al-A’raf:31—“makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan”—menjadi pengingat bahwa keindahan tidak boleh menjerumuskan ke kesia-siaan.
Pandangan ini menegaskan dimensi spiritual dari estetika. Bukan hanya tentang bentuk, tetapi juga tentang kesadaran bahwa keindahan adalah tanda kebesaran Tuhan. Dalam bahasa Qardhawi, Zinatullah—hiasan Allah—adalah bukti bahwa seni bukan sekadar ciptaan manusia, melainkan gema dari keindahan ilahi.
Antara Keindahan dan Ketaqwaan