Fitrah: Garis Ilahi dalam Diri Manusia
Miftah yusufpati
Ahad, 09 November 2025 - 04:14 WIB
Fitrah: Garis Ilahi dalam Diri Manusia
LANGIT7.ID-Bagi Dr. M. Quraish Shihab, manusia lahir tidak sebagai kertas kosong, melainkan membawa “peta Ilahi” dalam dirinya. Peta itu disebut fitrah—sebuah sistem ciptaan yang sejak awal ditanamkan oleh Tuhan pada manusia agar mengenal kebenaran, keindahan, dan keseimbangan.
Dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat(Mizan), Quraish Shihab menjelaskan bahwa secara bahasa, kata fitrah berasal dari akar kata al-fathr yang berarti “belahan” atau “pembukaan pertama.” Dari makna itu, lahirlah arti “penciptaan awal.” Ia mengutip riwayat sahabat Nabi, Ibnu Abbas, yang baru memahami makna fathir setelah mendengar seseorang berkata, “Ana fathartuhu”—“Aku yang membuatnya pertama kali.”
Sejak itu, kata fitrah dipahami sebagai keadaan asal manusia, bawaan sejak lahir yang menentukan arah dasar hidupnya.
Quraish Quraish Shihab merujuk ayat kunci dalam surat Ar-Rum ayat 30: “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.”
Ayat ini, tulis Quraish Shihab, menunjukkan bahwa setiap manusia membawa potensi keagamaan yang lurus—tauhid—sejak awal kejadiannya. “Fitrah itu bukan sesuatu yang ditanam kemudian,” katanya, “tetapi bagian dari sistem penciptaan manusia itu sendiri.”
Dengan kata lain, iman bukan hasil doktrin sosial, melainkan bagian dari struktur jiwa manusia. Walau seseorang dapat mengabaikannya, ia tidak dapat menghapusnya. “Fitrah keagamaan,” tulis Shihab, “melekat selama-lamanya, meski mungkin tak diakui.”
Lebih dari Naluri Beragama
Dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat(Mizan), Quraish Shihab menjelaskan bahwa secara bahasa, kata fitrah berasal dari akar kata al-fathr yang berarti “belahan” atau “pembukaan pertama.” Dari makna itu, lahirlah arti “penciptaan awal.” Ia mengutip riwayat sahabat Nabi, Ibnu Abbas, yang baru memahami makna fathir setelah mendengar seseorang berkata, “Ana fathartuhu”—“Aku yang membuatnya pertama kali.”
Sejak itu, kata fitrah dipahami sebagai keadaan asal manusia, bawaan sejak lahir yang menentukan arah dasar hidupnya.
Quraish Quraish Shihab merujuk ayat kunci dalam surat Ar-Rum ayat 30: “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.”
Ayat ini, tulis Quraish Shihab, menunjukkan bahwa setiap manusia membawa potensi keagamaan yang lurus—tauhid—sejak awal kejadiannya. “Fitrah itu bukan sesuatu yang ditanam kemudian,” katanya, “tetapi bagian dari sistem penciptaan manusia itu sendiri.”
Dengan kata lain, iman bukan hasil doktrin sosial, melainkan bagian dari struktur jiwa manusia. Walau seseorang dapat mengabaikannya, ia tidak dapat menghapusnya. “Fitrah keagamaan,” tulis Shihab, “melekat selama-lamanya, meski mungkin tak diakui.”
Lebih dari Naluri Beragama