LANGIT7.ID-Bagi Dr. M. Quraish Shihab, manusia lahir tidak sebagai kertas kosong, melainkan membawa “peta Ilahi” dalam dirinya. Peta itu disebut fitrah—sebuah sistem ciptaan yang sejak awal ditanamkan oleh Tuhan pada manusia agar mengenal kebenaran, keindahan, dan keseimbangan.
Dalam
Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan), Quraish Shihab menjelaskan bahwa secara bahasa, kata fitrah berasal dari akar kata al-fathr yang berarti “belahan” atau “pembukaan pertama.” Dari makna itu, lahirlah arti “penciptaan awal.” Ia mengutip riwayat sahabat Nabi, Ibnu Abbas, yang baru memahami makna fathir setelah mendengar seseorang berkata, “
Ana fathartuhu”—“Aku yang membuatnya pertama kali.”
Sejak itu, kata fitrah dipahami sebagai keadaan asal manusia, bawaan sejak lahir yang menentukan arah dasar hidupnya.
Quraish Quraish Shihab merujuk ayat kunci dalam surat Ar-Rum ayat 30: “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.”
Ayat ini, tulis Quraish Shihab, menunjukkan bahwa setiap manusia membawa potensi keagamaan yang lurus—tauhid—sejak awal kejadiannya. “Fitrah itu bukan sesuatu yang ditanam kemudian,” katanya, “tetapi bagian dari sistem penciptaan manusia itu sendiri.”
Dengan kata lain, iman bukan hasil doktrin sosial, melainkan bagian dari struktur jiwa manusia. Walau seseorang dapat mengabaikannya, ia tidak dapat menghapusnya. “Fitrah keagamaan,” tulis Shihab, “melekat selama-lamanya, meski mungkin tak diakui.”
Lebih dari Naluri Beragama Namun, Quraish Shihab menolak pandanganjasadiah. Mampu menarik kesimpulan dari premis-premis adalah fitrah akliah. Senang ketika menerima nikmat dan sedih saat tertimpa musibah juga bagian dari fitrah emosional manusia.
Dalam pandangan ini, fitrah menjadi fondasi multidimensi — mencakup kemampuan fisik, kecenderungan intelektual, dorongan emosional, dan potensi spiritual. Manusia bergerak, berpikir, merasa, dan beriman dalam garis yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.
Quraish Shihab mengaitkan pula ayat lain: “Telah dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada perempuan (atau laki-laki), anak-anak, dan harta yang banyak berupa emas, perak, kuda pilihan, ternak, dan sawah ladang.” (QS Ali Imran [3]: 14)
Kecenderungan pada keindahan dan kenikmatan duniawi bukanlah penyimpangan dari fitrah, melainkan bagian dari keseimbangan manusia. Fitrah, menurut Shihab, bukan menolak dunia, tapi menuntun manusia agar tidak diperbudak olehnya. “Manusia adalah makhluk duniawi yang mengemban dimensi langit,”
(mif)