Menyelami Nafs: Cermin Baik dan Buruk dalam Diri Manusia
Miftah yusufpati
Ahad, 09 November 2025 - 05:15 WIB
Potensi positif manusia sesungguhnya lebih kuat dari yang negatif, hanya saja daya tarik keburukan terasa lebih menggoda. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam kamus spiritual Al-Qur’an, “nafs” adalah kata yang hidup, berdenyut di antara kebaikan dan keburukan. Prof. Dr. M. Quraish Shihab, dalam karyanya Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat(Mizan), menelusuri lapisan makna yang kompleks di balik istilah ini. Ia tidak sekadar menunjuk pada “jiwa” atau “nafsu”, melainkan totalitas manusia — tubuh, kesadaran, dan dorongan batin yang membentuk arah perilaku.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada dalam diri (nafs) mereka sendiri,” (QS Ar-Ra’d[13]: 11).
Ayat ini, menurut Quraish Shihab, menegaskan bahwa inti perubahan sosial bermula dari dalam. *Nafs* menjadi wadah gagasan dan kemauan — ruang batin tempat ide, tekad, dan dorongan moral bersemayam.
Dalam tafsirnya, ia menulis bahwa nafsdiciptakan Allah dalam keadaan sempurna untuk menampung potensi baik dan buruk.” Dari ruang batin itulah muncul dorongan untuk berbuat baik atau jahat, membangun atau merusak.
Ilham Kebaikan dan Keburukan
Al-Qur’an menyebut, “Demi jiwa (nafs) dan penyempurnaan ciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwaan.” (QS Asy-Syams [91]: 7–8)
Quraish Shihab menafsirkan “mengilhamkan” sebagai pemberian potensi. Artinya, manusia dibekali kemampuan mengenali baik dan buruk — bukan hanya secara rasional, tapi juga intuitif. Potensi ini menjadikan manusia makhluk moral, sadar atas pilihan-pilihannya.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada dalam diri (nafs) mereka sendiri,” (QS Ar-Ra’d[13]: 11).
Ayat ini, menurut Quraish Shihab, menegaskan bahwa inti perubahan sosial bermula dari dalam. *Nafs* menjadi wadah gagasan dan kemauan — ruang batin tempat ide, tekad, dan dorongan moral bersemayam.
Dalam tafsirnya, ia menulis bahwa nafsdiciptakan Allah dalam keadaan sempurna untuk menampung potensi baik dan buruk.” Dari ruang batin itulah muncul dorongan untuk berbuat baik atau jahat, membangun atau merusak.
Ilham Kebaikan dan Keburukan
Al-Qur’an menyebut, “Demi jiwa (nafs) dan penyempurnaan ciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwaan.” (QS Asy-Syams [91]: 7–8)
Quraish Shihab menafsirkan “mengilhamkan” sebagai pemberian potensi. Artinya, manusia dibekali kemampuan mengenali baik dan buruk — bukan hanya secara rasional, tapi juga intuitif. Potensi ini menjadikan manusia makhluk moral, sadar atas pilihan-pilihannya.