LANGIT7.ID-Dalam kamus spiritual Al-Qur’an, “nafs” adalah kata yang hidup, berdenyut di antara kebaikan dan keburukan. Prof. Dr. M. Quraish Shihab, dalam karyanya
Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan), menelusuri lapisan makna yang kompleks di balik istilah ini. Ia tidak sekadar menunjuk pada “jiwa” atau “nafsu”, melainkan totalitas manusia — tubuh, kesadaran, dan dorongan batin yang membentuk arah perilaku.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada dalam diri (nafs) mereka sendiri,” (QS Ar-Ra’d [13]: 11).
Ayat ini, menurut Quraish Shihab, menegaskan bahwa inti perubahan sosial bermula dari dalam. *Nafs* menjadi wadah gagasan dan kemauan — ruang batin tempat ide, tekad, dan dorongan moral bersemayam.
Dalam tafsirnya, ia menulis bahwa nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna untuk menampung potensi baik dan buruk.” Dari ruang batin itulah muncul dorongan untuk berbuat baik atau jahat, membangun atau merusak.
Ilham Kebaikan dan Keburukan Al-Qur’an menyebut, “Demi jiwa (nafs) dan penyempurnaan ciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwaan.” (QS Asy-Syams [91]: 7–8)
Quraish Shihab menafsirkan “mengilhamkan” sebagai pemberian potensi. Artinya, manusia dibekali kemampuan mengenali baik dan buruk — bukan hanya secara rasional, tapi juga intuitif. Potensi ini menjadikan manusia makhluk moral, sadar atas pilihan-pilihannya.
Namun, berbeda dengan para sufi yang menilai nafs semata sebagai sumber sifat tercela, Quraish Shihab menegaskan sisi ganda nafs. Dalam pengertian Qur’ani, ia adalah arena keseimbangan, bukan permusuhan. Ia bisa mendorong kebaikan sekaligus menjerumuskan.
Tarik-Menarik Antara Dua Daya Menurut Quraish Shihab, potensi positif manusia sesungguhnya lebih kuat dari yang negatif, hanya saja daya tarik keburukan terasa lebih menggoda. Karena itu, Al-Qur’an menegaskan, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan nafs-nya, dan rugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams [91]: 9–10) nafs memperoleh ganjaran dari apa yang diusahakannya” (QS Al-Baqarah [2]: 286) menggambarkan usaha ringan, sementara
iktasabat (untuk dosa) menggambarkan upaya berat. “Manusia,” tulis Quraish Shihab, “pada dasarnya diciptakan Allah untuk kebaikan.”
Ayat lain menegaskan sisi bawaan itu: “Wahai manusia! Apa yang memperdayakanmu terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah, yang telah menciptakanmu, menyempurnakan kejadianmu, dan menjadikanmu adil (seimbang).” (QS Al-Infithar [82]: 6–7)
Kata “adil”, menurut Yusuf Ali, diartikan sebagai kecenderungan untuk berbuat seimbang dan benar. Dalam tafsir Quraish Shihab, kecenderungan moral ini adalah bagian dari fitrah yang bekerja melalui nafs — sebuah sistem batin yang dirancang untuk mencari keadilan, namun rawan diselewengkan oleh hawa nafsu.
Ruang Bawah Sadar Qur’ani Quraish Shihab juga membaca nafs sebagai wadah bagi lapisan kesadaran manusia. Di dalamnya tersimpan gagasan, kemauan, bahkan hal-hal yang tak lagi disadari. Ia mengutip ayat, “Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” (QS Thaha [20]: 7)
Yang “lebih tersembunyi”, tulisnya, adalah isi bawah sadar manusia — hal-hal yang tak terjangkau pikiran, namun tetap memengaruhi perilaku. Ia mengutip ucapan Ali bin Abi Thalib: “Tidak seorang pun menyembunyikan sesuatu kecuali tampak pada kata-katanya atau raut wajahnya.”
Bagi Shihab, nafs bukan sekadar moral compass, melainkan struktur kesadaran yang kompleks — cermin batin yang merekam, menyimpan, dan memantulkan setiap getar niat manusia.
Bahkan mimpi, menurut tafsirnya, adalah manifestasi nafs. Al-Qur’an membedakan antara ru’ya — mimpi yang mengandung makna atau pesan Ilahi — dan
adhghatsu ahlam — mimpi yang lahir dari keresahan bawah sadar. Dua-duanya berakar dari ruang dalam manusia, tempat nafs bekerja.
Dan di dasar ruang itu, kata Shihab, bersemayam qalb — hati nurani yang menjadi pusat moral dan spiritual. Di sinilah manusia diuji: apakah nafs tunduk pada qalb, atau sebaliknya?
(mif)