home masjid

Mencari Makna Bangsa dalam Ayat: Ummat, Bangsa, dan Persatuan yang Bertakwa

Rabu, 12 November 2025 - 04:15 WIB
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Apa sebenarnya yang dimaksud dengan paham kebangsaan? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi jawabannya berlapis seperti simpul sejarah umat manusia. Apakah bangsa ditentukan oleh darah dan keturunan, oleh bahasa dan adat, atau oleh cita-cita yang sama?

Prof. Dr. M. Quraish Shihab, dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat(Mizan, 1997), menyebut paham kebangsaan sebagai “sesuatu yang abstrak, seperti listrik—tak terlihat wujudnya, tapi terasa pengaruhnya.”

Quraish Shihab menulis, dalam sejarah modern, nasionalisme muncul dari kesadaran kolektif manusia untuk bersatu atas dasar kesamaan asal-usul, budaya, dan nasib. Namun, bagi umat Islam, pertanyaan yang lebih dalam segera muncul: Apakah Al-Qur’an mendukung gagasan kebangsaan yang bersumber dari dunia modern itu?

Apakah Islam dapat menerima persatuan manusia yang tidak didasari oleh kesatuan agama?

Quraish Shihab memulai jawabannya dengan menelusuri satu kata kunci: ummat. Kata ini, tulisnya, muncul 51 kali dalam Al-Qur’an, dengan makna yang sangat lentur. Kadang berarti kelompok beriman, kadang berarti masyarakat secara umum, bahkan kadang menunjuk pada hewan—seperti dalam surat Al-An’am (6): 38: “Tidak ada binatang melata di bumi dan burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat seperti kamu.”

Dalam tafsir klasik Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an, pakar bahasa Ar-Raghib Al-Isfahani menjelaskan bahwa *ummat* berarti “kelompok yang dihimpun oleh satu kesamaan”—bisa agama, waktu, tempat, atau tujuan, baik karena kehendak sendiri maupun karena keadaan. Artinya, umat tidak selalu identik dengan agama.

“Makna umat,” tulis Quraish Shihab, “tidak dibatasi jumlah, wilayah, atau bentuk pemerintahan. Ia bisa seluas umat manusia, atau sesempit satu tokoh teladan.” Ia mencontohkan Nabi Ibrahim AS yang disebut sebagai ummatan qanitan(QS An-Nahl [16]:120), karena keutamaan pribadinya mewakili nilai-nilai sebuah komunitas.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya