home masjid

Mengapa Utsman bin Affan Cepat-Cepat Hijrah ke Abisinia?

Jum'at, 14 November 2025 - 05:42 WIB
Utsman bin Affan tercatat sebagai salah satu yang paling awal meninggalkan Mekah menuju Abisinia. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID – Di antara riwayat hijrah pertama menuju Abisinia pada tahun kelima kenabian, satu nama kerap disebut-sebut lebih dahulu melangkah daripada yang lain: Utsman bin Affan, pedagang kaya Quraisy dari klan Bani Umayyah, menantu Rasulullah SAW. Ia berangkat bersama istrinya, Ruqayyah, putri Nabi—meninggalkan Mekah dalam keadaan gelap, ketika tekanan terhadap kaum Muslimin mencapai puncaknya.

Namun pertanyaan yang digulirkan sejarawan modern masih menggantung: mengapa Utsman begitu cepat mengambil keputusan hijrah? Apakah ia mencari selamat, atau ada alasan lain yang jauh lebih manusiawi?

Pertanyaan itu muncul pula dalam karya monumental Muhammad Husain Haekal, Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dan Kerajaan(Pustaka Litera AntarNusa, 1997). Haekal menulis dengan gaya investigatif: “Apakah karena ia tidak tahan melihat Muslimin lain mengalami berbagai penganiayaan? Ataukah karena ia khawatir Ruqayyah istrinya akan mendapat musibah sedang ia tak mampu melindunginya dari gangguan kaumnya sendiri?”

Pada masa hijrah pertama, kekejaman Quraisy tidak merata diterima setiap Muslim. Ada yang dibiarkan, ada yang disiksa, ada pula yang dikucilkan secara ekonomi. Namun bagi Utsman, posisi sosialnya justru memperberat keadaan. Ia berasal dari Bani Umayyah, klan paling vokal memusuhi Muhammad.

Dalam Tarikh al-Tabari(jilid 2), dicatat bahwa pemuka Umayyah—khawatir kehilangan status—memulai kampanye keras terhadap siapa pun yang masuk Islam dari keluarga mereka sendiri. Dengan kata lain, Utsman berada tepat di titik paling rawan: seorang bangsawan Quraisy yang membelot, kemudian menikahi putri pemimpin “agama baru” yang dianggap mengancam tatanan Mekah.

Sejarawan Wilferd Madelungdalam The Succession to Muhammad(Cambridge, 1997) menulis bahwa posisi Utsman “secara politik mengundang permusuhan lebih besar dibanding kebanyakan sahabat.” Hijrah cepat-cepat bukanlah pelarian, melainkan langkah menghindari kekerasan yang kemungkinan besar akan diarahkan langsung kepada Ruqayyah—sebuah risiko yang tak sanggup ditanggung oleh seorang suami sekaligus bangsawan yang menjunjung kehormatan keluarga.

Cinta dan Kekhawatiran Seorang Suami
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya