PDPI: Sesak Napas Bukan Gejala Biasa, Bisa Jadi Tanda PPOK atau Hipertensi Pulmoner
Nabil
Rabu, 19 November 2025 - 14:21 WIB
(Kiri) Prof. dr. Ratnawati, MCH, Sp.P(K), PhD, Ketua Pokja Penyakit Saluran Nafas PDPI, (Kanan) Dr. dr. Edward Pandu W., Sp.P(K) selaku Ketua Pokja Sirkulasi Pulmoner PDPI. Dok: Langit7.id
LANGIT7.ID-Jakarta;Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menegaskan bahwa sesak napas tidak boleh dianggap sebagai kondisi normal, karena bisa menjadi gejala awal dari dua penyakit serius: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan hipertensi pulmoner. Kedua penyakit ini sering terlambat terdiagnosis, menyebabkan penurunan kualitas hidup, hingga kematian dini bila tidak ditangani sejak awal.
Prof. dr. Ratnawati, MCH, Sp.P(K), PhD, Ketua Pokja Penyakit Saluran Nafas PDPI, menekankan bahwa masyarakat cenderung meremehkan gejala sesak napas sebagai kelelahan biasa—padahal bisa menjadi tanda awal kerusakan paru.
“Sesak napas yang sering dianggap sebagai hal normal karena kepayahan atau kelelahan, padahal itu sebenarnya merupakan tanda awal dari PPOK,”ujar dia dalam webinar Konferensi Pers World COPD Day-Pulmonary Hypentension Awareness Month 2025, Rabu (19/11/2025).
Baca juga: PDPI Peringatkan Ancaman Serius PPOK dan Hipertensi Pulmoner di Indonesia
Ratnawati menjelaskan bahwa PPOK merupakan penyakit dengan angka kematian tinggi secara global. WHO mencatat 3,23 juta kematian pada tahun 2019, dan 90 persen di antaranya terjadi pada kelompok usia di bawah 70 tahun. Di Indonesia, prevalensi PPOK diperkirakan mencapai 5,6 persen. Ia menegaskan bahwa gejala seperti batuk kronik, dahak berlebih, dan sesak napas berkepanjangan perlu segera diklarifikasi melalui pemeriksaan faal paru (spirometri), terutama pada perokok aktif, perokok pasif, atau mereka yang terpapar polusi dan debu dalam waktu lama.
Sementara itu, Dr. dr. Edward Pandu W., Sp.P(K) selaku Ketua Pokja Sirkulasi Pulmoner PDPI menyoroti bahwa hipertensi pulmoner juga memiliki gejala awal yang sering tidak dihiraukan masyarakat, meskipun berpotensi menyebabkan gagal jantung kanan.
“Gejala seperti sesak nafas saat aktivitas, cepat lelah, dan pingsan tanpa sebab yang jelas.”
Prof. dr. Ratnawati, MCH, Sp.P(K), PhD, Ketua Pokja Penyakit Saluran Nafas PDPI, menekankan bahwa masyarakat cenderung meremehkan gejala sesak napas sebagai kelelahan biasa—padahal bisa menjadi tanda awal kerusakan paru.
“Sesak napas yang sering dianggap sebagai hal normal karena kepayahan atau kelelahan, padahal itu sebenarnya merupakan tanda awal dari PPOK,”ujar dia dalam webinar Konferensi Pers World COPD Day-Pulmonary Hypentension Awareness Month 2025, Rabu (19/11/2025).
Baca juga: PDPI Peringatkan Ancaman Serius PPOK dan Hipertensi Pulmoner di Indonesia
Ratnawati menjelaskan bahwa PPOK merupakan penyakit dengan angka kematian tinggi secara global. WHO mencatat 3,23 juta kematian pada tahun 2019, dan 90 persen di antaranya terjadi pada kelompok usia di bawah 70 tahun. Di Indonesia, prevalensi PPOK diperkirakan mencapai 5,6 persen. Ia menegaskan bahwa gejala seperti batuk kronik, dahak berlebih, dan sesak napas berkepanjangan perlu segera diklarifikasi melalui pemeriksaan faal paru (spirometri), terutama pada perokok aktif, perokok pasif, atau mereka yang terpapar polusi dan debu dalam waktu lama.
Sementara itu, Dr. dr. Edward Pandu W., Sp.P(K) selaku Ketua Pokja Sirkulasi Pulmoner PDPI menyoroti bahwa hipertensi pulmoner juga memiliki gejala awal yang sering tidak dihiraukan masyarakat, meskipun berpotensi menyebabkan gagal jantung kanan.
“Gejala seperti sesak nafas saat aktivitas, cepat lelah, dan pingsan tanpa sebab yang jelas.”