Pemeriksaan Spirometri Jadi Kunci Awal Deteksi PPOK, PDPI Ungkap Pentingnya Kolaborasi Medis
Nabil
Rabu, 19 November 2025 - 14:49 WIB
dokter spesialis paru, (Kiri) dr. Arief Bakhtiar, Sp.P(K) dan (Kanan) dr. Hendris Citra Wahyudin, Sp.P. Dok: Langit7.id
LANGIT7.ID-Jakarta;Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menegaskan pentingnya standarisasi pemeriksaan fungsi paru dalam mendeteksi penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan hipertensi pulmoner. Dua dokter spesialis paru, dr. Arief Bakhtiar, Sp.P(K), dan dr. Hendris Citra Wahyudin, Sp.P, memaparkan perlunya pemeriksaan terstruktur serta kolaborasi lintas disiplin antara dokter paru dan dokter jantung agar diagnosis dua penyakit tersebut menjadi lebih akurat dan cepat.
dr. Arief menjelaskan bahwa PPOK merupakan kelainan kronik akibat kerusakan saluran napas dan paru dalam jangka panjang. Ia menegaskan bahwa diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan keluhan, melainkan membutuhkan pemeriksaan fungsi paru. “Dan untuk diagnosis pastinya adalah dengan pemeriksaan namanya faal paru atau spirometri yang saat ini akan diupayakan oleh pihak pemerintah untuk bisa disediakan di level faskes tingkat satu, faskes utama ataupun spesialis,” ujar dia dalam webinar Konferensi Pers World COPD Day-Pulmonary Hypentension Awareness Month 2025, Rabu (19/11/2025).
Ia menerangkan bahwa spirometri menjadi pemeriksaan dasar yang harus tersedia di layanan primer hingga spesialis, karena gejala PPOK seperti sesak kronik, batuk panjang, dan produksi dahak sering muncul mirip dengan penyakit paru lainnya. Tanpa pemeriksaan faal paru, risiko salah diagnosis menjadi lebih tinggi. Arief juga menekankan perlunya evaluasi rutin, baik dari fungsi paru, gejala klinis, maupun kebiasaan merokok pasien untuk menentukan keberhasilan terapi jangka panjang.
Baca juga: PDPI: Sesak Napas Bukan Gejala Biasa, Bisa Jadi Tanda PPOK atau Hipertensi Pulmoner
Sementara itu, dr. Hendris Citra Wahyudin, Sp.P, menekankan bahwa hipertensi pulmoner juga membutuhkan deteksi dini dan tidak bisa hanya mengandalkan pemeriksaan sederhana. Menurutnya, kondisi ini harus ditangani dengan pendekatan multidisiplin karena menyangkut fungsi paru dan jantung sekaligus. Ia menjelaskan bahwa hipertensi pulmoner dapat terdeteksi melalui serangkaian pemeriksaan lanjutan. “Tentu diagnosis yang terbaik adalah lebih awal lebih baik,” tegasnya.
Hendris menyebutkan beberapa pemeriksaan yang diperlukan untuk menilai fungsi paru secara lebih komprehensif, seperti pengukuran kapasitas difusi paru (DLCO), tes jalan enam menit (6MWT), CT-scan untuk melihat rasio arteri pulmonal, hingga echocardiography bekerja sama dengan dokter jantung. Pemeriksaan tersebut membantu menilai derajat gangguan ventilasi, kapasitas oksigenasi, serta beban tekanan yang harus ditanggung jantung kanan pasien.
Ia juga menekankan pentingnya kerja sama erat antara dokter paru, dokter jantung, dan rehabilitasi medik dalam menilai kondisi pasien secara holistik. Menurutnya, banyak pasien penyakit paru kronik yang tetap berisiko mengalami hipertensi pulmoner meskipun pengobatan PPOK atau gangguan paru kronik lainnya sudah dijalankan dengan baik. “Nah tentu ini semua berdasar daripada ringan dan beratnya suatu pengelolaan hipertensi,” ungkapnya.
dr. Arief menjelaskan bahwa PPOK merupakan kelainan kronik akibat kerusakan saluran napas dan paru dalam jangka panjang. Ia menegaskan bahwa diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan keluhan, melainkan membutuhkan pemeriksaan fungsi paru. “Dan untuk diagnosis pastinya adalah dengan pemeriksaan namanya faal paru atau spirometri yang saat ini akan diupayakan oleh pihak pemerintah untuk bisa disediakan di level faskes tingkat satu, faskes utama ataupun spesialis,” ujar dia dalam webinar Konferensi Pers World COPD Day-Pulmonary Hypentension Awareness Month 2025, Rabu (19/11/2025).
Ia menerangkan bahwa spirometri menjadi pemeriksaan dasar yang harus tersedia di layanan primer hingga spesialis, karena gejala PPOK seperti sesak kronik, batuk panjang, dan produksi dahak sering muncul mirip dengan penyakit paru lainnya. Tanpa pemeriksaan faal paru, risiko salah diagnosis menjadi lebih tinggi. Arief juga menekankan perlunya evaluasi rutin, baik dari fungsi paru, gejala klinis, maupun kebiasaan merokok pasien untuk menentukan keberhasilan terapi jangka panjang.
Baca juga: PDPI: Sesak Napas Bukan Gejala Biasa, Bisa Jadi Tanda PPOK atau Hipertensi Pulmoner
Sementara itu, dr. Hendris Citra Wahyudin, Sp.P, menekankan bahwa hipertensi pulmoner juga membutuhkan deteksi dini dan tidak bisa hanya mengandalkan pemeriksaan sederhana. Menurutnya, kondisi ini harus ditangani dengan pendekatan multidisiplin karena menyangkut fungsi paru dan jantung sekaligus. Ia menjelaskan bahwa hipertensi pulmoner dapat terdeteksi melalui serangkaian pemeriksaan lanjutan. “Tentu diagnosis yang terbaik adalah lebih awal lebih baik,” tegasnya.
Hendris menyebutkan beberapa pemeriksaan yang diperlukan untuk menilai fungsi paru secara lebih komprehensif, seperti pengukuran kapasitas difusi paru (DLCO), tes jalan enam menit (6MWT), CT-scan untuk melihat rasio arteri pulmonal, hingga echocardiography bekerja sama dengan dokter jantung. Pemeriksaan tersebut membantu menilai derajat gangguan ventilasi, kapasitas oksigenasi, serta beban tekanan yang harus ditanggung jantung kanan pasien.
Ia juga menekankan pentingnya kerja sama erat antara dokter paru, dokter jantung, dan rehabilitasi medik dalam menilai kondisi pasien secara holistik. Menurutnya, banyak pasien penyakit paru kronik yang tetap berisiko mengalami hipertensi pulmoner meskipun pengobatan PPOK atau gangguan paru kronik lainnya sudah dijalankan dengan baik. “Nah tentu ini semua berdasar daripada ringan dan beratnya suatu pengelolaan hipertensi,” ungkapnya.