Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home lifestyle muslim detail berita

Pemeriksaan Spirometri Jadi Kunci Awal Deteksi PPOK, PDPI Ungkap Pentingnya Kolaborasi Medis

nabil Rabu, 19 November 2025 - 14:49 WIB
Pemeriksaan Spirometri Jadi Kunci Awal Deteksi PPOK, PDPI Ungkap Pentingnya Kolaborasi Medis
dokter spesialis paru, (Kiri) dr. Arief Bakhtiar, Sp.P(K) dan (Kanan) dr. Hendris Citra Wahyudin, Sp.P. Dok: Langit7.id
LANGIT7.ID-Jakarta; Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menegaskan pentingnya standarisasi pemeriksaan fungsi paru dalam mendeteksi penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan hipertensi pulmoner. Dua dokter spesialis paru, dr. Arief Bakhtiar, Sp.P(K), dan dr. Hendris Citra Wahyudin, Sp.P, memaparkan perlunya pemeriksaan terstruktur serta kolaborasi lintas disiplin antara dokter paru dan dokter jantung agar diagnosis dua penyakit tersebut menjadi lebih akurat dan cepat.

dr. Arief menjelaskan bahwa PPOK merupakan kelainan kronik akibat kerusakan saluran napas dan paru dalam jangka panjang. Ia menegaskan bahwa diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan keluhan, melainkan membutuhkan pemeriksaan fungsi paru. “Dan untuk diagnosis pastinya adalah dengan pemeriksaan namanya faal paru atau spirometri yang saat ini akan diupayakan oleh pihak pemerintah untuk bisa disediakan di level faskes tingkat satu, faskes utama ataupun spesialis,” ujar dia dalam webinar Konferensi Pers World COPD Day-Pulmonary Hypentension Awareness Month 2025, Rabu (19/11/2025).

Ia menerangkan bahwa spirometri menjadi pemeriksaan dasar yang harus tersedia di layanan primer hingga spesialis, karena gejala PPOK seperti sesak kronik, batuk panjang, dan produksi dahak sering muncul mirip dengan penyakit paru lainnya. Tanpa pemeriksaan faal paru, risiko salah diagnosis menjadi lebih tinggi. Arief juga menekankan perlunya evaluasi rutin, baik dari fungsi paru, gejala klinis, maupun kebiasaan merokok pasien untuk menentukan keberhasilan terapi jangka panjang.

Baca juga: PDPI: Sesak Napas Bukan Gejala Biasa, Bisa Jadi Tanda PPOK atau Hipertensi Pulmoner

Sementara itu, dr. Hendris Citra Wahyudin, Sp.P, menekankan bahwa hipertensi pulmoner juga membutuhkan deteksi dini dan tidak bisa hanya mengandalkan pemeriksaan sederhana. Menurutnya, kondisi ini harus ditangani dengan pendekatan multidisiplin karena menyangkut fungsi paru dan jantung sekaligus. Ia menjelaskan bahwa hipertensi pulmoner dapat terdeteksi melalui serangkaian pemeriksaan lanjutan. “Tentu diagnosis yang terbaik adalah lebih awal lebih baik,” tegasnya.

Hendris menyebutkan beberapa pemeriksaan yang diperlukan untuk menilai fungsi paru secara lebih komprehensif, seperti pengukuran kapasitas difusi paru (DLCO), tes jalan enam menit (6MWT), CT-scan untuk melihat rasio arteri pulmonal, hingga echocardiography bekerja sama dengan dokter jantung. Pemeriksaan tersebut membantu menilai derajat gangguan ventilasi, kapasitas oksigenasi, serta beban tekanan yang harus ditanggung jantung kanan pasien.

Ia juga menekankan pentingnya kerja sama erat antara dokter paru, dokter jantung, dan rehabilitasi medik dalam menilai kondisi pasien secara holistik. Menurutnya, banyak pasien penyakit paru kronik yang tetap berisiko mengalami hipertensi pulmoner meskipun pengobatan PPOK atau gangguan paru kronik lainnya sudah dijalankan dengan baik. “Nah tentu ini semua berdasar daripada ringan dan beratnya suatu pengelolaan hipertensi,” ungkapnya.

Baca juga: PDPI Peringatkan Ancaman Serius PPOK dan Hipertensi Pulmoner di Indonesia

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kolaborasi ini diperlukan untuk membedakan apakah keluhan sesak pasien berasal dari penyakit paru yang belum stabil atau akibat gangguan tekanan di pembuluh darah paru. Kondisi tersebut hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan bersama dua disiplin ilmu, terutama ketika gejala semakin berat atau tidak membaik meski terapi paru telah optimal.

PDPI menilai bahwa standarisasi pemeriksaan seperti spirometri, DLCO, CT-scan, 6MWT, hingga echocardiography akan mempercepat penegakan diagnosis sekaligus memastikan terapi yang diberikan sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. Pendekatan terintegrasi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan penyakit paru kronik di fasilitas kesehatan Indonesia serta mendorong deteksi dini untuk mencegah komplikasi yang lebih berat di kemudian hari.

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)