LANGIT7.ID-Jakarta; Indonesia saat ini menduduki peringkat kedua di dunia sebagai negara dengan beban Tuberkulosis (TB) tertinggi. Fakta mengejutkan ini menjadi sorotan utama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bertepatan dengan momentum peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia dan Hari Tidur Sedunia pada bulan ini. Dengan mengusung tema global "Yes, We Can End TB, Lead By Countries, Powered By People", PDPI menegaskan bahwa penanganan TB bukan lagi sekadar urusan medis semata, melainkan masalah sosial yang membutuhkan aksi nyata dari seluruh elemen masyarakat.
Beban Ganda: Darurat Tuberkulosis dan Pentingnya Kualitas TidurKetua Umum Pengurus Pusat PDPI, Dr. dr. Arief Riadi Arifin, Sp.P(K), menyoroti realitas pahit terkait lonjakan kasus di Tanah Air. Posisi Indonesia yang terus naik, dari peringkat empat, ketiga, hingga kini berada di posisi kedua dunia, merupakan pekerjaan rumah (PR) yang sangat besar. Tantangan ini bukan hanya beban bagi para dokter spesialis paru, tetapi juga bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Lebih lanjut, Dr. Arief juga menekankan kaitan yang sangat erat antara kesehatan sistem pernapasan dengan kualitas istirahat. Gangguan tidur akan berdampak langsung pada kondisi respirasi, imunitas, hingga memengaruhi kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, pendekatan pulmonologi ke depannya harus lebih komprehensif, yakni tidak sekadar mengobati penyakit, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup pasien secara utuh.
"Indonesia masih menghadapi beban TB yang tinggi. Karena itu deteksi dini, pengobatan tuntas, pencegahan resistensi obat, serta pengurangan stigma. Harus terus kita perkuat secara sistematis dan kolaboratif," tegas Dr. Arief dalam webinar Zoom, Selasa (3/3/2026).
Dr. Arief mengingatkan kembali komitmen PDPI yang akan terus berperan aktif memberikan edukasi, meningkatkan kompetensi sejawat, serta melakukan advokasi kebijakan berbasis bukti agar masyarakat yang sehat, salah satunya melalui kualitas tidur yang baik, serta bebas TB bisa segera terwujud.
Kesenjangan Deteksi dan Ancaman TB Resisten Obat (TBRO)Sejalan dengan fondasi dan komitmen yang telah dijabarkan oleh Ketua Umum PDPI di atas, pemaparan yang lebih mendalam mengenai rincian data kesenjangan kasus serta strategi spesifik eliminasi TB diuraikan secara tuntas oleh Ketua Pokja Bidang Infeksi Pengurus Pusat PDPI, Dr. dr. Irawaty Djaharuddin, Sp.P(K).
Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2025 dari WHO, secara global terdapat sekitar 10,7 juta kasus TB dengan 1,2 juta kematian setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri, estimasi kasus TB baru menyentuh angka 1,1 juta per tahun. Ironisnya, data nasional hingga akhir tahun 2025 menunjukkan bahwa sistem baru berhasil mendeteksi dan mencatat lebih dari 600 ribu kasus. Kesenjangan ini menandakan masih banyaknya penderita TB di tengah masyarakat yang belum terdiagnosis dan bebas menularkan penyakitnya.
Dr. Irawaty menjelaskan bahwa penyakit ini paling banyak menyerang kelompok usia produktif, sehingga dampaknya ikut menghantam stabilitas ekonomi keluarga dan produktivitas nasional. Meskipun pengobatan TB telah ditanggung penuh oleh JKN, kepatuhan pasien kerap terhenti akibat biaya tidak langsung (catastrophic cost) seperti biaya nutrisi, transportasi, hingga hilangnya pendapatan karena tidak bisa bekerja. Pendekatan medis semata tidak lagi memadai jika tidak dibarengi dengan dukungan sosial-ekonomi yang mumpuni.
Ancaman krusial berikutnya adalah Tuberkulosis Resisten Obat (TBRO). Pengobatan yang terputus atau tidak tuntas memicu lonjakan kasus TBRO yang terapinya jauh lebih lama, lebih kompleks, mahal, dan memiliki risiko efek samping tinggi. Sebagai respons, Dr. Irawaty merinci strategi prioritas percepatan eliminasi dari PDPI untuk tahun 2026, di antaranya:
-
Meningkatkan Skrining Aktif: Terutama untuk populasi berisiko tinggi seperti kontak serumah, pasien diabetes, anak-anak, dan penghuni barak militer.
-
Penguatan Diagnosis Molekuler: Menjadikan Tes Cepat Molekuler sebagai standar pemeriksaan awal bagi seluruh terduga TB.
-
Perluasan Terapi Pencegahan: Memperkuat investigasi kontak dan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
-
Pemantauan Pengobatan Ketat: Memaksimalkan peran keluarga dan kader kesehatan demi mencegah putus berobat.
Selain memperkuat infrastruktur medis, memutus rantai stigma di tengah masyarakat juga tidak kalah krusial. Dr. Irawaty mengimbau agar masyarakat segera memeriksakan diri jika mengalami gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, demam kronis, hingga penurunan nafsu makan dan keringat malam.
"TB ini bukan aib. TB bukan kutukan. TB adalah penyakit medis yang bisa diobati sampai sembuh apabila ditangani dengan benar," ujar Dr. Irawaty.
Mewujudkan Indonesia bebas TB bukanlah hal yang mustahil. PDPI menegaskan bahwa target ini hanya bisa dicapai melalui komitmen nasional yang kuat serta aksi nyata dari seluruh lapisan masyarakat.
(lam)