Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 25 Mei 2026
home global news detail berita

Pneumonia yang Didapat di Rumah Sakit Masih Jadi Ancaman Mematikan, PDPI Soroti Strategi Antibiotik Baru

nabil Senin, 25 Mei 2026 - 22:52 WIB
Pneumonia yang Didapat di Rumah Sakit Masih Jadi Ancaman Mematikan, PDPI Soroti Strategi Antibiotik Baru
LANGIT7.ID-Jakarta; Pneumonia yang didapat selama perawatan di rumah sakit masih menjadi ancaman serius bagi pasien, terutama mereka yang menjalani perawatan intensif atau menggunakan ventilator mekanik. Dokter spesialis paru Dr. dr. Fathiyah Isbaniah, Sp.P(K), M.Pd.Ked, yang juga anggota Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), menegaskan pendekatan terbaru dalam tata laksana pneumonia nosokomial kini menitikberatkan pada terapi yang lebih personal, agresif dalam diagnosis awal, namun lebih terukur dalam penggunaan antibiotik.

Hospital-acquired pneumonia (HAP) merupakan pneumonia yang muncul setelah pasien menjalani perawatan rumah sakit minimal 48 jam dan tidak sedang berada dalam masa inkubasi saat masuk rumah sakit. Sementara ventilator-associated pneumonia (VAP) terjadi lebih dari 48 jam setelah pemasangan intubasi endotrakeal.

Kasus pneumonia di rumah sakit masih menjadi persoalan besar. Proporsi pneumonia dari seluruh pasien rawat inap di Indonesia mencapai 1,5 persen. Insidensi HAP tercatat 5 hingga 10 kasus per 1.000 pasien. Kondisi menjadi jauh lebih berat di ruang ICU, karena lebih dari 90 persen kasus pneumonia yang berkembang terjadi pada pasien yang menjalani intubasi dan ventilasi mekanik.

Risiko kematian akibat HAP juga tidak bisa dianggap ringan. Angka kematian HAP di Indonesia mencapai 11,3 persen, lebih tinggi dibanding pneumonia komunitas di kawasan Asia Tenggara.

“Standard of care terbaru menyatakan personalized, patient-specific therapy, de-escalation berdasarkan hasil kultur sputum dengan lama pemberian diperpendek menjadi 7 hari pemberian AB," ujar dia dalam webinar PDPI, Senin (25/52026).

Infeksi ini paling sering dipicu bakteri Gram negatif yang menyumbang sekitar 50 hingga 60 persen kasus HAP. Patogen utama yang kerap ditemukan antara lain Enterobacteriaceae seperti Klebsiella pneumoniae, Escherichia coli, Serratia marcescens, Enterobacter spp., kemudian Acinetobacter spp. dan Pseudomonas aeruginosa.

Ancaman lain datang dari bakteri multidrug resistant (MDR), termasuk methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), yang membuat pengobatan menjadi jauh lebih kompleks.

Kelompok usia lanjut menjadi populasi paling rentan. Risiko juga meningkat pada pasien dengan penyakit penyerta, imunosupresi, malnutrisi, trauma, luka bakar, hingga pasien pascaoperasi.

Pada kasus VAP, intubasi dan ventilasi mekanik meningkatkan risiko pneumonia hingga 6 sampai 21 kali lipat. Periode paling rawan terjadi dalam lima hari pertama setelah intubasi.

Selain itu, riwayat penggunaan antibiotik intravena dalam 90 hari terakhir menjadi faktor risiko utama untuk infeksi bakteri resisten, baik pada HAP maupun VAP. Faktor lain seperti syok sepsis, ARDS, rawat inap lebih dari lima hari, hingga terapi pengganti ginjal akut juga memperbesar ancaman.

Diagnosis HAP dan VAP dilakukan melalui kombinasi pemeriksaan klinis dan radiologis. Salah satu indikator utama adalah munculnya infiltrat baru atau progresif pada foto toraks. Kondisi ini harus disertai sedikitnya dua tanda klinis seperti suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius, sekret purulen, ronki atau suara napas bronkial, leukositosis, leukopenia, hingga penurunan saturasi oksigen.

Pemeriksaan penunjang juga menjadi bagian penting dalam memastikan diagnosis. Pemeriksaan darah lengkap, kultur sputum, analisis gas darah, kultur darah, hingga biomarker seperti prokalsitonin digunakan untuk menentukan tingkat keparahan sekaligus respons terapi.

“Dahulukan pengambilan sampel secara agresif sebelum memulai pemberian antibiotik spektrum luas secara empiris," ujar dia.

Pendekatan terapi awal menekankan penggunaan antibiotik spektrum sempit sejauh memungkinkan, dengan penyesuaian berdasarkan kondisi klinis pasien. Pada pasien berat, terapi antibiotik empiris intravena tetap menjadi pilihan utama.

Untuk dugaan VAP, cakupan terapi harus meliputi Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, serta bakteri Gram negatif lainnya. Bila terdapat risiko MRSA atau prevalensi MRSA tinggi di unit perawatan, antibiotik seperti vankomisin atau linezolid direkomendasikan.

Pada pasien dengan risiko resistensi Gram negatif atau risiko kematian tinggi, terapi kombinasi dua antibiotik antipseudomonal dari kelas berbeda menjadi strategi yang diprioritaskan.

Namun pergantian antibiotik tidak boleh dilakukan terlalu cepat.

Respons terapi umumnya baru terlihat dalam 48 hingga 72 jam pertama. Karena itu, perubahan antibiotik sebelum periode tersebut tidak dianjurkan kecuali kondisi pasien memburuk.

Durasi terapi antibiotik kini juga lebih singkat dibanding pendekatan lama. Standar pemberian antibiotik direkomendasikan selama tujuh hari, meski tetap bisa diperpanjang atau diperpendek berdasarkan kondisi klinis, hasil laboratorium, serta evaluasi biomarker.

Jika pasien tidak menunjukkan perbaikan, evaluasi ulang wajib dilakukan untuk mencari kemungkinan penyebab lain seperti infeksi jamur, abses, keganasan, emboli paru, gagal jantung, atau bahkan proses non-infeksius seperti ARDS.

Komplikasi HAP dan VAP sendiri bisa sangat berat, mulai dari efusi pleura, gagal napas, empiema, syok sepsis, hingga gagal ginjal akut.

Secara keseluruhan, mortalitas HAP dan VAP dilaporkan mencapai 32,7 persen. Risiko kematian meningkat pada pasien dengan penyakit penyerta berat, riwayat penggunaan antibiotik, status imunosupresi, kondisi fungsional buruk, penggunaan ventilator mekanik, hingga syok septik.

Upaya pencegahan tetap menjadi garis pertahanan utama. Strategi yang ditekankan meliputi vaksinasi, penghentian kebiasaan merokok, pengendalian infeksi, kebersihan oral, mobilisasi dini pasien, serta posisi kepala tempat tidur 30 hingga 45 derajat untuk menekan risiko VAP.

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 25 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)