LANGIT7.ID-Jakarta; Sering dianggap sebagai pertanda tidur nyenyak atau sekadar kelelahan, mendengkur ternyata bisa menjadi sinyal bahaya bagi kesehatan Anda. Memperingati World Sleep Day (Hari Tidur Sedunia) yang jatuh pada 13 Maret 2026, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat terhadap kualitas tidur melalui tema global "Sleep Well, Life Better".
Prof. Dr. dr. Allen Widysanto, Sp.P., mengingatkan masyarakat akan ancaman Obstructive Sleep Apnea (OSA), sebuah gangguan tidur yang sangat umum, namun ironisnya, sekitar 80% kasusnya tidak terdiagnosis di masyarakat.
Mendengkur Bukan Sekadar Lelah, Kenali Bahaya OSA
Banyak orang belum menyadari bahwa mendengkur dengan keras yang disertai rasa tersedak atau terbangun dengan napas tercekik adalah gejala utama OSA. Jika dibiarkan, dampaknya tidak main-main. OSA berkaitan erat dengan risiko mematikan seperti stroke, hipertensi, penyakit jantung koroner, hingga kecelakaan lalu lintas akibat microsleep (tertidur sesaat).
Prof. Allen menjelaskan secara rinci mekanisme terjadinya gangguan ini saat kita terlelap.
"OSA adalah kondisi terjadi sumbatan berulang pada saluran napas bagian atas saat tidur yang menyebabkan henti napas sesaat atau apnea atau napas dangkal atau hipoapnea. Keadaan ini dapat terjadi puluhan kali bahkan ratusan kali dalam satu malam tidur," ungkap Prof. Allen dalam webinar Zoom, Selasa (3/3/2026).
Risiko ini semakin meningkat pada pria, individu dengan obesitas, lingkar leher besar, lansia, serta wanita yang telah memasuki masa menopause. Sayangnya, stigma bahwa gangguan tidur bukanlah masalah serius, ditambah terbatasnya fasilitas deteksi dini seperti polisomnografi di layanan kesehatan primer, membuat penanganan OSA di Indonesia masih menjadi tantangan besar.
Baca juga: Peringatan Hari TB dan Tidur Sedunia, PDPI: Posisi RI Mengkhawatirkan
Insomnia dan Kunci Mendapatkan Sleep Hygiene yang Baik
Selain OSA, masalah lain yang banyak dikeluhkan masyarakat urban adalah insomnia. Tekanan pekerjaan, stres, dan gaya hidup sering kali membuat seseorang kesulitan untuk memejamkan mata di malam hari.
Mengenai hal ini, Prof. Allen memaparkan bahwa gangguan ini bisa diatasi asalkan penderitanya memahami akar masalahnya.
"Jadi insomnia itu sebenarnya adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan tidur. Insomnia sendiri dibagi menjadi dua yaitu insomnia yang sifatnya akut dan insomnia yang sifatnya kronik ya," tegasnya.
Untuk insomnia akut yang biasanya berlangsung kurang dari tiga bulan akibat stres atau jet lag, perbaikan pola tidur sering kali menjadi kunci. Namun, untuk insomnia kronis, terapi standar emas yang sangat disarankan adalah Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia (CBT-I), yang terkadang dibantu dengan pengobatan medis sebagai jembatan awal.
Lebih lanjut, Prof. Allen membagikan tips menjaga kebersihan tidur (sleep hygiene) untuk mendapatkan kualitas istirahat yang maksimal:
Tidur Berkualitas adalah Investasi Kesehatan Bangsa
Menutup penjelasannya, mewakili Ketua Umum PDPI Dr. dr. Arif Riadi, Sp.P(K), Prof. Allen berpesan agar masyarakat mulai menjadikan tidur sebagai prioritas biologis dasar untuk perbaikan sel tubuh. Tidur yang cukup, minimal 8 jam bagi orang dewasa, bukanlah sebuah kemalasan, melainkan investasi kesehatan jangka panjang.
"Jangan anggap remeh mendengkur dan rasa kantuk yang berlebihan di siang hari. Jika Anda atau keluarga mengalami gejalanya, segera konsultasikan ke dokter. Mari kita jadikan momentum Hari Tidur Sedunia ini sebagai gerakan untuk Indonesia yang lebih sehat," pungkasnya.
