Utsman bin Affan: Saat Muslimin Mulai Mempersiapkan Armada Laut
Miftah yusufpati
Kamis, 20 November 2025 - 05:45 WIB
Dari keputusan sukarela itulah, ekspedisi ke Siprus digelar. Langkah awal menuju reputasi baru: Islam bukan lagi kekuatan darat semata. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di awal masa kekhalifahan Utsman bin Affan, peta politik Mediterania berubah cepat. Afrika Utara—dari Antakiah hingga sekujur pesisir barat—resmi berada di bawah kedaulatan Islam. Guratan garis pantai yang menjulur ribuan mil itu menjadi titik rapuh baru: celah bagi serangan laut Kekaisaran Romawi.
Muawiyah bin Abi Sufyan, gubernur Syam yang sejak awal membaca dinamika itu, melihat satu masalah besar: pantai yang luas tak dapat dipertahankan tanpa kekuatan maritim. Romawi, tulis Muhammad Husain Haekal dalam Utsman bin Affan: Antara Kekhalifahan dan Kerajaan(terj. Ali Audah, Pustaka Litera AntarNusa), telah lama mengincar Antakiah dari arah laut. Ia tahu perang berikutnya tidak akan berhenti di darat.
Muawiyah pernah membawa ide itu ke Khalifah Umar. Ia menggambarkan pulau Siprus begitu dekat dengan Hims hingga kokok ayam dan gonggongan anjing dari pulau itu disebut akan terdengar di daratan. Umar menolak. Ia khawatir kekuatan Arab yang masih hijau dalam peperangan laut akan jadi korban ombak sebelum berjumpa musuh.
Ketika Utsman naik, sejarah berputar ke arah yang sama. Serangan Romawi ke Mesir datang dari laut. Jangkauan wilayah Islam sudah terlalu panjang untuk terus digantungkan pada pertahanan darat. Muawiyah kembali mengajukan permintaan lama itu: serang Siprus, dan bangun armada laut.
Tetapi Utsman berhenti di antara dua tebing: kehati-hatian Umar yang ia janjikan untuk ia lanjutkan saat dibaiat, dan tuntutan geopolitik baru yang tak mungkin diacuhkan. Ia menulis kepada Muawiyah, mengingatkan penolakan Umar dulu. Namun gelombang zaman lebih kuat dari keraguan.
Permintaan itu kembali diajukan. Kali ini Utsman mengizinkan—tapi dengan batasan tegas. Serangan laut hanya boleh dilakukan oleh mereka yang rela dan tidak dipaksa. Tidak boleh melibatkan pasukan terbaik yang terpaksa meninggalkan posisi penting di darat. Dengan itu, Utsman menjaga dua garis: warisan kewaspadaan Umar dan kebutuhan strategis imperium yang merentang.
Ketetapan itu menjadi titik berangkat lahirnya armada laut Muslim. Sebuah kompromi politik, tetapi juga visi militer.
Muawiyah bin Abi Sufyan, gubernur Syam yang sejak awal membaca dinamika itu, melihat satu masalah besar: pantai yang luas tak dapat dipertahankan tanpa kekuatan maritim. Romawi, tulis Muhammad Husain Haekal dalam Utsman bin Affan: Antara Kekhalifahan dan Kerajaan(terj. Ali Audah, Pustaka Litera AntarNusa), telah lama mengincar Antakiah dari arah laut. Ia tahu perang berikutnya tidak akan berhenti di darat.
Muawiyah pernah membawa ide itu ke Khalifah Umar. Ia menggambarkan pulau Siprus begitu dekat dengan Hims hingga kokok ayam dan gonggongan anjing dari pulau itu disebut akan terdengar di daratan. Umar menolak. Ia khawatir kekuatan Arab yang masih hijau dalam peperangan laut akan jadi korban ombak sebelum berjumpa musuh.
Ketika Utsman naik, sejarah berputar ke arah yang sama. Serangan Romawi ke Mesir datang dari laut. Jangkauan wilayah Islam sudah terlalu panjang untuk terus digantungkan pada pertahanan darat. Muawiyah kembali mengajukan permintaan lama itu: serang Siprus, dan bangun armada laut.
Tetapi Utsman berhenti di antara dua tebing: kehati-hatian Umar yang ia janjikan untuk ia lanjutkan saat dibaiat, dan tuntutan geopolitik baru yang tak mungkin diacuhkan. Ia menulis kepada Muawiyah, mengingatkan penolakan Umar dulu. Namun gelombang zaman lebih kuat dari keraguan.
Permintaan itu kembali diajukan. Kali ini Utsman mengizinkan—tapi dengan batasan tegas. Serangan laut hanya boleh dilakukan oleh mereka yang rela dan tidak dipaksa. Tidak boleh melibatkan pasukan terbaik yang terpaksa meninggalkan posisi penting di darat. Dengan itu, Utsman menjaga dua garis: warisan kewaspadaan Umar dan kebutuhan strategis imperium yang merentang.
Ketetapan itu menjadi titik berangkat lahirnya armada laut Muslim. Sebuah kompromi politik, tetapi juga visi militer.