home masjid

Kisah Armada yang Pertama dalam Sejarah Islam

Kamis, 20 November 2025 - 16:46 WIB
Dari pelabuhan Syam hingga dermaga Iskandariah, dari selat Siprus hingga pesisir laut Merah, armada itu membuka cakrawala baru tentang bentuk kekuasaan Islam di abad-abad berikutnya. Ist
LANGIT7.ID- Di sebuah teluk kecil di Syam pada pertengahan abad ketujuh, deretan kapal kayu mulai tampak sibuk. Suara palu menempa lunas, tiang layar ditegakkan, dan sukarelawan berdatangan dari desa-desa pesisir. Pemandangan itu nyaris tak terbayangkan satu dekade sebelumnya, ketika bangsa Arab dikenal hanya sebagai penunggang kuda dan penguasa gurun.

Kini, untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, sebuah armada laut dibangun secara sistematis. Dan semua bermula dari satu keputusan politik di Damaskus, lalu disahkan di Madinah.

Sumber utama historiografi mengenai fase ini dapat ditemukan pada karya Muhammad Husain Haekal, Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dan Kerajaan(diterjemahkan Ali Audah, Pustaka Litera AntarNusa). Di sana ia mencatat bagaimana surat Khalifah Usman kepada Gubernur Syam, Mu'awiyah bin Abi Sufyan, menjadi titikan sejarah: umat Islam harus memasuki arena laut.

Menurut Haekal, bangsa Arab sebelum masa Utsman hampir tak mengenal perang laut. Dunia mereka adalah padang pasir dan karavan. Laut adalah ruang asing, tempat bangsa Rumawi dan Byzantium bertarung memperebutkan dominasi.

Mu'awiyah melihat ancaman itu dengan mata seorang administrator yang pragmatis. Kedaulatan Islam telah membentang dari Hijaz ke Mesir dan Syam. Batas-batas kekuasaan itu kini menyentuh garis pantai Laut Tengah dan Laut Merah. Tanpa armada, wilayah ini terbuka bagi invasi Rumawi. Dan Rumawi, tulis Haekal, hanya punya satu cara untuk merebut kembali Mesir: datang melalui laut.

Utsman menyetujui pendirian armada, dengan satu syarat: perang laut dilakukan oleh sukarelawan. Ia memahami sensitivitas bangsa Arab terhadap bahaya laut dan konflik internal yang mungkin muncul dari wajib perang.

Ternyata, sukarelawan datang jauh lebih banyak dari perkiraan. Dalam waktu singkat, kata Haekal, armada Islam telah berdiri sejajar dengan armada Rumawi—sebuah kejutan bagi kekuatan maritim terbesar di kawasan itu.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya