Kemenangan Laut Pertama Islam: Perang dengan Romawi di Siprus
Miftah yusufpati
Jum'at, 21 November 2025 - 08:36 WIB
Di Siprus, perang pertama dimenangkan tanpa pertempuran justru pertempuran besar terjadi beberapa tahun kemudian, saat perjanjian damai runtuh. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Pada suatu subuh di pesisir Syam, Muawiyah bin Abi Sufyan naik ke geladak kapal induk. Istrinya, Fakhitah binti Qarazah, turut serta—sebuah keputusan yang menandai ekspedisi ini bukan sekadar manuver militer, tetapi juga simbol kepercayaan diri seorang gubernur yang tengah menata kekuatan di wilayah laut.
Armada itu—yang menurut Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dengan Kerajaankarya Muhammad Husain Haekal (Pustaka Litera AntarNusa)—bergerak dalam formasi panjang. Kapal Muawiyah di depan, diikuti ratusan kapal sukarelawan dari Syam, Mekah, dan Madinah. Bagi dunia Arab, laut bukan arena alamiah mereka. Namun sejak persetujuan Utsman dengan Muawiyah mengenai pembangunan angkatan laut, peradaban gurun itu mulai menyesuaikan diri dengan gelombang Laut Tengah.
Ketika armada Muslim mendarat di tepi pantai Siprus, mereka menemukan sesuatu yang tidak biasa bagi sebuah ekspedisi perang: tidak ada satu pun pasukan Romawi menghadang.
Haekal, mengutip Al-Balazuri, mencatat bagaimana pemimpin Siprus memilih negosiasi. Mereka berada di persimpangan: pulau itu berada di bawah Romawi, tetapi jangkauan proteksi kekaisaran itu melemah. Pilihan mereka adalah perjanjian damai ganda: membayar 7200 dinar kepada Muslimin dan jumlah yang sama kepada Romawi. Dengan ini, mereka menolak menjadi loyal sepenuhnya kepada siapa pun—tetapi juga tidak mampu menolak kedua kekuatan itu.
Konsekuensinya rumit: Muslimin tidak berkewajiban melindungi mereka jika diserang. Sebagai gantinya, orang Siprus harus menjadi mata-mata, mengabarkan pergerakan armada Romawi yang mungkin mengancam Syam atau Mesir.
Dalam The History of Cypruskarya George Hill, model kesetiaan ganda semacam ini disebut sebagai strategi bertahan negara kecil di tengah persaingan dua imperium besar. Siprus memang terletak pada jalur strategis yang sering diperebutkan sejak era Persia, Hellenistik, hingga Romawi.
Ekspedisi Kedua: Perang yang Terjadi Kemudian
Armada itu—yang menurut Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dengan Kerajaankarya Muhammad Husain Haekal (Pustaka Litera AntarNusa)—bergerak dalam formasi panjang. Kapal Muawiyah di depan, diikuti ratusan kapal sukarelawan dari Syam, Mekah, dan Madinah. Bagi dunia Arab, laut bukan arena alamiah mereka. Namun sejak persetujuan Utsman dengan Muawiyah mengenai pembangunan angkatan laut, peradaban gurun itu mulai menyesuaikan diri dengan gelombang Laut Tengah.
Ketika armada Muslim mendarat di tepi pantai Siprus, mereka menemukan sesuatu yang tidak biasa bagi sebuah ekspedisi perang: tidak ada satu pun pasukan Romawi menghadang.
Haekal, mengutip Al-Balazuri, mencatat bagaimana pemimpin Siprus memilih negosiasi. Mereka berada di persimpangan: pulau itu berada di bawah Romawi, tetapi jangkauan proteksi kekaisaran itu melemah. Pilihan mereka adalah perjanjian damai ganda: membayar 7200 dinar kepada Muslimin dan jumlah yang sama kepada Romawi. Dengan ini, mereka menolak menjadi loyal sepenuhnya kepada siapa pun—tetapi juga tidak mampu menolak kedua kekuatan itu.
Konsekuensinya rumit: Muslimin tidak berkewajiban melindungi mereka jika diserang. Sebagai gantinya, orang Siprus harus menjadi mata-mata, mengabarkan pergerakan armada Romawi yang mungkin mengancam Syam atau Mesir.
Dalam The History of Cypruskarya George Hill, model kesetiaan ganda semacam ini disebut sebagai strategi bertahan negara kecil di tengah persaingan dua imperium besar. Siprus memang terletak pada jalur strategis yang sering diperebutkan sejak era Persia, Hellenistik, hingga Romawi.
Ekspedisi Kedua: Perang yang Terjadi Kemudian