Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 25 Mei 2026
home masjid detail berita

Kemenangan Laut Pertama Islam: Perang dengan Romawi di Siprus

miftah yusufpati Jum'at, 21 November 2025 - 08:36 WIB
Kemenangan Laut Pertama Islam: Perang dengan Romawi di Siprus
Di Siprus, perang pertama dimenangkan tanpa pertempuran justru pertempuran besar terjadi beberapa tahun kemudian, saat perjanjian damai runtuh. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Pada suatu subuh di pesisir Syam, Muawiyah bin Abi Sufyan naik ke geladak kapal induk. Istrinya, Fakhitah binti Qarazah, turut serta—sebuah keputusan yang menandai ekspedisi ini bukan sekadar manuver militer, tetapi juga simbol kepercayaan diri seorang gubernur yang tengah menata kekuatan di wilayah laut.

Armada itu—yang menurut Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan karya Muhammad Husain Haekal (Pustaka Litera AntarNusa)—bergerak dalam formasi panjang. Kapal Muawiyah di depan, diikuti ratusan kapal sukarelawan dari Syam, Mekah, dan Madinah. Bagi dunia Arab, laut bukan arena alamiah mereka. Namun sejak persetujuan Utsman dengan Muawiyah mengenai pembangunan angkatan laut, peradaban gurun itu mulai menyesuaikan diri dengan gelombang Laut Tengah.

Ketika armada Muslim mendarat di tepi pantai Siprus, mereka menemukan sesuatu yang tidak biasa bagi sebuah ekspedisi perang: tidak ada satu pun pasukan Romawi menghadang.

Haekal, mengutip Al-Balazuri, mencatat bagaimana pemimpin Siprus memilih negosiasi. Mereka berada di persimpangan: pulau itu berada di bawah Romawi, tetapi jangkauan proteksi kekaisaran itu melemah. Pilihan mereka adalah perjanjian damai ganda: membayar 7200 dinar kepada Muslimin dan jumlah yang sama kepada Romawi. Dengan ini, mereka menolak menjadi loyal sepenuhnya kepada siapa pun—tetapi juga tidak mampu menolak kedua kekuatan itu.

Konsekuensinya rumit: Muslimin tidak berkewajiban melindungi mereka jika diserang. Sebagai gantinya, orang Siprus harus menjadi mata-mata, mengabarkan pergerakan armada Romawi yang mungkin mengancam Syam atau Mesir.

Dalam The History of Cyprus karya George Hill, model kesetiaan ganda semacam ini disebut sebagai strategi bertahan negara kecil di tengah persaingan dua imperium besar. Siprus memang terletak pada jalur strategis yang sering diperebutkan sejak era Persia, Hellenistik, hingga Romawi.

Ekspedisi Kedua: Perang yang Terjadi Kemudian

Menurut Al-Balazuri, perjanjian itu bertahan hingga tahun 32 Hijriah. Setelah itu, Romawi memberi kapal kepada penyerang wilayah Muslim. Muawiyah membalas dengan ekspedisi besar: 500 kapal dikirim pada tahun 33 Hijriah. Kali ini terjadi pembunuhan, penawanan, dan pemaksaan ulang perjanjian.

Sebanyak 12.000 orang dari pemerintahan Muslim ditempatkan di sana, masjid dibangun, penduduk dari Baalbak dipindahkan, dan sebuah kota baru didirikan. Namun proyek kolonisasi itu tidak bertahan lama. Ketika Muawiyah wafat dan Yazid naik takhta, Yazid justru memerintahkan kota itu dihancurkan. Dalam catatan Patricia Crone (God’s Rule), kebijakan zig-zag seperti ini mencerminkan perebutan kendali politik pada masa awal dinasti Umayyah.

Balazuri menyebut Muawiyah memimpin sendiri ekspedisi pembebasan Siprus. Namun Tabari dan Ibn al-Athir memberikan versi lain: armada Syam dan armada Mesir berangkat bersama, dipimpin Abdullah bin Sa'd bin Abi Sarh. Muawiyah disebut hanya menugaskan Abdullah bin Qais al-Harisi.

Riwayat yang tumpang tindih membuka spekulasi. Di era ketika politik keluarga Umayyah mulai memusat, penulisan sejarah sering menyisipkan legitimasi: menonjolkan sosok tertentu sebagai pemimpin, atau menundukkannya pada struktur kekuasaan yang lebih luas.

Sejarawan Andrew Marsham dalam The Emergence of Islam mengingatkan bahwa sumber-sumber awal Islam sering ditulis beberapa generasi sesudah peristiwa, ketika ingatan politik sudah terwarnai kepentingan dinasti.

Pulau Strategis di Tengah Laut

Alasan ekspedisi itu jelas. Siprus, menurut Haekal, merupakan pangkalan alamiah yang mengontrol Laut Tengah. Bagi Romawi, ia adalah pintu ke Mesir. Bagi Muslimin, ia adalah celah pertahanan terhadap serangan laut yang selama ini mereka tidak mampu tangkal.

Ekspedisi Muawiyah menandai momen penting: untuk pertama kalinya dalam sejarah Arab-Islam, armada laut menjadi instrumen politik dan militer yang strategis. Bernard Lewis menyebutnya “revolusi maritim” dalam The Arabs in History: bangsa gurun yang kini belajar bertempur di atas ombak.

Bahkan jika ekspedisi pertama berlangsung damai, kehadiran armada itu mengubah lanskap kekuatan. Keberanian Muawiyah membawa istrinya dan banyak tokoh Mekah–Madinah menunjukkan keyakinan bahwa dominasi laut Romawi sudah goyah.

Haekal, dalam bukunya, membaca peristiwa ini sebagai bagian dari transformasi besar: masa Utsman menandai perubahan model pemerintahan dari struktur suku ke struktur negara. Muawiyah, gubernur Syam yang kemudian menjadi pendiri kerajaan Umayyah, sedang membangun tradisi baru: militerisasi laut, kolonisasi wilayah strategis, dan diplomasi ganda.

Dan seperti yang sering terjadi dalam sejarah, peperangan tidak selalu berlangsung dengan tabuhan genderang. Di Siprus, perang pertama dimenangkan tanpa pertempuran; justru pertempuran besar terjadi beberapa tahun kemudian, saat perjanjian damai runtuh.

Dalam riwayat yang bertumpuk dan penafsiran yang tak selalu sejalan, satu hal tampak pasti: ekspedisi ke Siprus adalah langkah pertama dunia Islam menantang dominasi maritim Romawi. Dari pantai pulau itu, babak baru politik Mediterania mulai terbuka.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 25 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)