Bagaimana Cara Bersyukur? Begini Penjelasan Quraish Shihab
Miftah yusufpati
Ahad, 23 November 2025 - 05:15 WIB
Dari Al-Quran hingga riset psikologi modern, syukur ternyata kerja panjang manusia. Foto: Ist
LANGIT7.ID – Di sebagian keluarga, orang tua mengingatkan anak-anak untuk mengucap syukur saban makan datang. Tapi di banyak momen lain, syukur sering berhenti sebagai formalitas yang dieja di bibir, bukan dijalani dalam hidup.
Dalam Wawasan Al-Qur’an (Mizan), mufasir Prof. Dr. M. Quraish Shihab menyimpulkan bahwa syukur memiliki tiga sisi: hati, lidah, dan perbuatan. Syukur, kata dia, adalah proses mengenali nikmat, menyebutnya, lalu menampakkannya lewat tindakan yang selaras dengan tujuan nikmat itu diberikan.
Pertama, syukur dengan hati. Yaitu kesadaran bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Seorang Muslim, bahkan saat dirundung musibah, tetap dapat bersyukur bukan atas malapetaka itu, melainkan karena Tuhan masih menyisakan banyak keringanan. Qarun menjadi contoh sebaliknya: ia menisbatkan kekayaan kepada kemampuan pribadi, lalu digolongkan Al-Qur’an sebagai pengingkar nikmat (QS Al-Qashash [28]: 76-82).
Dalam tradisi Islam, bentuk paling spontan dari syukur batin adalah sujud syukur. Ia dapat muncul seketika, cukup sekali sujud, bahkan tanpa wudu menurut banyak ulama — tanda bahwa rasa syukur adalah reaksi naluriah, bukan ritual terjadwal.
Kedua, syukur dengan lidah. Ia terlihat dari ungkapan al-hamdulillah yang, menurut ahli bahasa, menggunakan partikel al lil-istighraq: meliputi seluruh pujian. Artinya, ketika manusia memuji sesama karena kebaikan atau kecantikan, pujian itu pada akhirnya kembali ke Sang Pemberi nikmat. Jika ada peristiwa tampak buruk, Quraish Shihab mengingatkan keterbatasan pandangan manusia menentukan tolok ukur baik-buruk.
Ketiga, syukur dengan perbuatan. Quraish Shihab mengutip perintah Allah kepada keluarga Nabi Daud: Bekerjalah sebagai tanda syukur (QS Saba’ [34]: 13). Dalam tafsir itu, syukur terwujud lewat pemanfaatan nikmat sesuai tujuan penciptaannya. Laut misalnya: diciptakan untuk pangan, pelayaran, dan karunia lain yang mendorong manusia mengeksplorasi potensi bumi (QS An-Nahl [16]: 14).
Janji Al-Qur’an pun turun pada wilayah praksis. Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah nikmat-Ku (QS Ibrahim [14]: 7). Tambahan itu bukan mukjizat tiba-tiba, melainkan konsekuensi logis: potensi yang diolah akan berkembang, tanah yang digarap akan subur, laut yang dijadikan jalur dagang akan memperkaya.
Dalam Wawasan Al-Qur’an (Mizan), mufasir Prof. Dr. M. Quraish Shihab menyimpulkan bahwa syukur memiliki tiga sisi: hati, lidah, dan perbuatan. Syukur, kata dia, adalah proses mengenali nikmat, menyebutnya, lalu menampakkannya lewat tindakan yang selaras dengan tujuan nikmat itu diberikan.
Pertama, syukur dengan hati. Yaitu kesadaran bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Seorang Muslim, bahkan saat dirundung musibah, tetap dapat bersyukur bukan atas malapetaka itu, melainkan karena Tuhan masih menyisakan banyak keringanan. Qarun menjadi contoh sebaliknya: ia menisbatkan kekayaan kepada kemampuan pribadi, lalu digolongkan Al-Qur’an sebagai pengingkar nikmat (QS Al-Qashash [28]: 76-82).
Dalam tradisi Islam, bentuk paling spontan dari syukur batin adalah sujud syukur. Ia dapat muncul seketika, cukup sekali sujud, bahkan tanpa wudu menurut banyak ulama — tanda bahwa rasa syukur adalah reaksi naluriah, bukan ritual terjadwal.
Kedua, syukur dengan lidah. Ia terlihat dari ungkapan al-hamdulillah yang, menurut ahli bahasa, menggunakan partikel al lil-istighraq: meliputi seluruh pujian. Artinya, ketika manusia memuji sesama karena kebaikan atau kecantikan, pujian itu pada akhirnya kembali ke Sang Pemberi nikmat. Jika ada peristiwa tampak buruk, Quraish Shihab mengingatkan keterbatasan pandangan manusia menentukan tolok ukur baik-buruk.
Ketiga, syukur dengan perbuatan. Quraish Shihab mengutip perintah Allah kepada keluarga Nabi Daud: Bekerjalah sebagai tanda syukur (QS Saba’ [34]: 13). Dalam tafsir itu, syukur terwujud lewat pemanfaatan nikmat sesuai tujuan penciptaannya. Laut misalnya: diciptakan untuk pangan, pelayaran, dan karunia lain yang mendorong manusia mengeksplorasi potensi bumi (QS An-Nahl [16]: 14).
Janji Al-Qur’an pun turun pada wilayah praksis. Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah nikmat-Ku (QS Ibrahim [14]: 7). Tambahan itu bukan mukjizat tiba-tiba, melainkan konsekuensi logis: potensi yang diolah akan berkembang, tanah yang digarap akan subur, laut yang dijadikan jalur dagang akan memperkaya.