home masjid

Waktu dan Tempat Bersyukur: Tak Mengenal Jam atau Ruang

Selasa, 25 November 2025 - 05:15 WIB
Syukur tak mengenal jam atau ruang. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Kapan waktu yang tepat untuk bersyukur? Lelap malam atau riuh siang? Di ruang lapang atau saat sempit mendesak? Bagi Al-Qur’an, jawabannya sederhana: semua waktu adalah panggung syukur.

Ayat pertama surah Saba’ menyatakan bahwa segala puji milik Tuhan di langit dan bumi, kini di dunia maupun kelak di akhirat. Di sana, para penghuni surga tetap memuji sambil menengok ke belakang: Kami tidak akan memperoleh petunjuk ini seandainya Allah tidak memberi petunjuk (QS Al-A’raf 43). Syukur tak berhenti di dunia, ia berlanjut di alam yang abadi.

Dalam Wawasan Al-Qur’an (Mizan), Prof. Dr. M. Quraish Shihab menulis, syukur adalah kesadaran manusia atas keterbatasannya dan pengakuan akan sumber segala karunia. Karena nikmat Tuhan tidak pernah kosong dari hidup manusia, waktu syukur juga tidak mungkin kosong.

Di dunia yang digilir siang-malam, Al-Qur’an membayangkan manusia hidup dalam siklus pendidikan spiritual: Dia menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur (QS Al-Furqan 62). Artinya, syukur bukan hanya respons terhadap rezeki, tetapi proses memahami hikmah.

Dalam QS Ar-Rum 17-18, syukur bahkan dipetakan dalam ritme harian: petang hari, pagi hari, siang terik. Seolah hidup manusia dibingkai empat penjuru waktu, dan setiap sisi adalah pintu untuk memuji.

---

Rasulullah menjadi contoh paling konkret. Saat bangun tidur, beliau menyebut hidup sebagai nikmat yang baru saja dikembalikan. Usai makan, pakaian dikenakan, bahkan menjelang tidur — selalu Alhamdulillah. Penanda bahwa syukur bukan acara seremonial, melainkan pengetahuan bahwa hidup ini tidak terjadi dengan sendirinya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya