home masjid

Salat yang Tersendat Waswas: Bukan Sekadar Gangguan Batin

Jum'at, 28 November 2025 - 15:30 WIB
Di balik waswas itu, ada disiplin khusyu yang dituntun nash dan diperinci fatwa klasik hingga kontemporer. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pada suatu malam, seorang jamaah mengadu: setiap kali berdiri untuk shalat, pikirannya berhamburan. Selepas salam, ia sadar hampir tak merasakan apa pun kecuali kekacauan batin. Ia mengulang shalat, namun hasilnya sama—hingga ia lupa tasyahud awal, bahkan tidak tahu lagi jumlah rakaat yang dikerjakannya. Kecemasan tumpah menjadi rasa takut ditimpa murka Allah.

Pertanyaan semacam ini bukan perkara baru. Dalam tradisi fikih, waswas ketika shalat dipandang sebagai godaan yang harus ditangani, bukan diikuti. Buku Fatwa-Fatwa Terkini terbitan Darul Haq—terjemahan dari Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah karya Khalid Al-Juraisu—mencatat pandangan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz: bisikan itu berasal dari setan, dan obatnya adalah kesadaran penuh dalam ibadah.

Ia merujuk firman Allah dalam Surah Al-Mukminun ayat 1–2:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Para mufasir sepakat: khusyu’ bukan sekadar kekhusyukan batin, tetapi kesadaran yang mengakar pada gerak dan fokus.

Antara Sunnah dan Disiplin Tubuh

Tradisi hadis mencatat satu peristiwa yang menjadi rujukan banyak kitab fikih. Ketika Nabi melihat seorang lelaki yang shalat tanpa thuma’ninah, beliau memintanya mengulang hingga tiga kali. Lalu Nabi mengajarkan urutan yang sederhana tapi tegas:
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya