Makna Tiga Hadis tentang Tobat: Menggambarkan Keluasan Ampunan Tuhan
Miftah yusufpati
Senin, 01 Desember 2025 - 16:31 WIB
Tiga hadis tentang tobat ini menggambarkan keluasan ampunan Tuhan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Di ruang sunyi antara gelap dan terang, para perawi meriwayatkan tiga sabda yang menjadi fondasi teologi ampunan. Syaikh Yusuf al Qardhawi, dalam at Taubat Ila Allah terbitan Maktabah Wahbah, menghimpunnya sebagai penjelasan tentang bagaimana Tuhan mendekati manusia yang rapuh.
Hadis-hadis itu disusun pula oleh Hafizh al Mundziri dalam at Targhib wa Tarhib, lalu dipilih kembali dalam al Muntaqa min at Targhib wa Tarhib, menunjukkan bobotnya dalam tradisi moral Islam.
Riwayat pertama datang dari Abi Musa r.a.: Sesungguhnya Allah SWT membuka "tangan"-Nya pada malam hari untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada siang hari, dan membuka "tangan"-Nya pada siang hari, untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada malam hari, hingga matahari terbit dari Barat.
Riwayat an-Nasaai ini menggambarkan metafora kedekatan Tuhan—sebuah bahasa simbolis yang oleh para ulama kalam dipahami sebagai ungkapan kasih sayang, bukan atribut fisik.
Ibn Hajar dalam Fath al Bari mencatat bahwa hadis semacam ini dibaca melalui pendekatan tanzih: meniadakan penyerupaan, sembari menegaskan keluasan rahmat-Nya. Dalam tafsir etisnya, al Qardhawi melihat hadis ini sebagai penanda bahwa ruang tobat tak pernah tutup, kecuali ketika sejarah manusia mencapai garis final.
Hadis kedua dari Abi Hurairah r.a. lebih menggugah dimensi psikologisnya: Jika kalian melakukan dosa hingga dosa kalian sampai ke matahari, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan mengampuni kalian.
Riwayat Ibnu Majah yang berderajat hasan ini menjadi favorit para pengkhotbah. Di dalamnya terdapat hiperbola khas retorika Arab: dosa setinggi matahari, sebuah gambaran tentang keterpurukan paling ekstrem. Namun logika moral hadis itu justru dibangun pada pembalikan: sebesar apa pun kesalahan, pintu kembali selalu lebih besar.
Hadis-hadis itu disusun pula oleh Hafizh al Mundziri dalam at Targhib wa Tarhib, lalu dipilih kembali dalam al Muntaqa min at Targhib wa Tarhib, menunjukkan bobotnya dalam tradisi moral Islam.
Riwayat pertama datang dari Abi Musa r.a.: Sesungguhnya Allah SWT membuka "tangan"-Nya pada malam hari untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada siang hari, dan membuka "tangan"-Nya pada siang hari, untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada malam hari, hingga matahari terbit dari Barat.
Riwayat an-Nasaai ini menggambarkan metafora kedekatan Tuhan—sebuah bahasa simbolis yang oleh para ulama kalam dipahami sebagai ungkapan kasih sayang, bukan atribut fisik.
Ibn Hajar dalam Fath al Bari mencatat bahwa hadis semacam ini dibaca melalui pendekatan tanzih: meniadakan penyerupaan, sembari menegaskan keluasan rahmat-Nya. Dalam tafsir etisnya, al Qardhawi melihat hadis ini sebagai penanda bahwa ruang tobat tak pernah tutup, kecuali ketika sejarah manusia mencapai garis final.
Hadis kedua dari Abi Hurairah r.a. lebih menggugah dimensi psikologisnya: Jika kalian melakukan dosa hingga dosa kalian sampai ke matahari, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan mengampuni kalian.
Riwayat Ibnu Majah yang berderajat hasan ini menjadi favorit para pengkhotbah. Di dalamnya terdapat hiperbola khas retorika Arab: dosa setinggi matahari, sebuah gambaran tentang keterpurukan paling ekstrem. Namun logika moral hadis itu justru dibangun pada pembalikan: sebesar apa pun kesalahan, pintu kembali selalu lebih besar.