LANGIT7.ID- Di ruang sunyi antara gelap dan terang, para perawi meriwayatkan tiga sabda yang menjadi fondasi teologi ampunan. Syaikh Yusuf al Qardhawi, dalam
at Taubat Ila Allah terbitan Maktabah Wahbah, menghimpunnya sebagai penjelasan tentang bagaimana Tuhan mendekati manusia yang rapuh.
Hadis-hadis itu disusun pula oleh Hafizh al Mundziri dalam
at Targhib wa Tarhib, lalu dipilih kembali dalam
al Muntaqa min at Targhib wa Tarhib, menunjukkan bobotnya dalam tradisi moral Islam.
Riwayat pertama datang dari Abi Musa r.a.: Sesungguhnya Allah SWT membuka "tangan"-Nya pada malam hari untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada siang hari, dan membuka "tangan"-Nya pada siang hari, untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada malam hari, hingga matahari terbit dari Barat.
Riwayat an-Nasaai ini menggambarkan metafora kedekatan Tuhan—sebuah bahasa simbolis yang oleh para ulama kalam dipahami sebagai ungkapan kasih sayang, bukan atribut fisik.
Ibn Hajar dalam
Fath al Bari mencatat bahwa hadis semacam ini dibaca melalui pendekatan tanzih: meniadakan penyerupaan, sembari menegaskan keluasan rahmat-Nya. Dalam tafsir etisnya, al Qardhawi melihat hadis ini sebagai penanda bahwa ruang tobat tak pernah tutup, kecuali ketika sejarah manusia mencapai garis final.
Hadis kedua dari Abi Hurairah r.a. lebih menggugah dimensi psikologisnya: Jika kalian melakukan dosa hingga dosa kalian sampai ke matahari, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan mengampuni kalian.
Riwayat Ibnu Majah yang berderajat hasan ini menjadi favorit para pengkhotbah. Di dalamnya terdapat hiperbola khas retorika Arab: dosa setinggi matahari, sebuah gambaran tentang keterpurukan paling ekstrem. Namun logika moral hadis itu justru dibangun pada pembalikan: sebesar apa pun kesalahan, pintu kembali selalu lebih besar.
Fazlur Rahman membaca ayat-ayat dan hadis bertema serupa sebagai pola etika Qurani: alur jatuh-bangun manusia bukan cacat, tetapi bagian dari proses menuju kedewasaan spiritual.
Riwayat ketiga dari Jabir r.a. adalah yang paling eksistensial: Di antara kebahagiaan manusia adalah panjang usianya, dan Allah SWT memberikan rezeki taubat kepadanya. Al Hakim mensahihkan sanadnya, dan Adz Dzahabi menerimanya. Hadis ini menautkan umur panjang dengan peluang memperbaiki diri.
Dalam kerangka sosiologis, seperti ditulis Abdul Halim Mahmud dalam
al Tawbah ila Allah, usia panjang bukan sekadar waktu biologis, melainkan kesempatan memperbarui komitmen moral. Di tangan ulama tasawuf, hadis ini dipahami sebagai pernyataan bahwa hidup yang baik bukan diukur oleh panjangnya waktu, melainkan oleh seberapa sering seseorang diberi taufik untuk kembali.
Dibaca bersama, tiga hadis ini membentuk narasi penuh tentang dinamika manusia: Tuhan yang membuka ruang tanpa henti, manusia yang jatuh sampai memalukan, dan mereka yang menemukan kebahagiaan ketika diberi kesempatan memulai lagi. Dalam bingkai moral publik, pesan hadis-hadis ini bukan sekadar doktrin rohani. Ia menantang budaya fatalisme, keyakinan bahwa kesalahan adalah identitas permanen. Dalam masyarakat yang sering menandai seseorang dengan stigma, ajaran tobat justru memperkenalkan etika peluang kedua.
Qardhawi, dalam pembahasannya, menegaskan bahwa tobat bukan mekanisme penghapusan masa lalu, melainkan transformasi. Ia bukan hanya penyesalan, tetapi tindakan sadar untuk mengubah arah. Dengan memadukan tiga hadis itu, ia menggambar peta jalan spiritual: sebuah ruang yang selalu terbuka, kejatuhan yang tidak menghapus harapan, dan kesempatan yang terus-menerus diberikan bagi siapa pun yang ingin kembali.
Di tengah ritme hidup modern yang serba cepat, ajaran ini terasa semakin relevan. Kita hidup di zaman ketika kesalahan mudah direkam, disebarkan, dan sulit dilupakan. Tiga hadis tentang tobat ini menawarkan cara lain membaca manusia: bahwa mereka selalu lebih besar dari masa lalunya. Bahwa perjalanan moral bukan garis lurus, melainkan lingkaran yang selalu punya jalan pulang.
(mif)