Kemenag Ingatkan Darurat Literasi Digital: Risikonya Serius!
Tim langit 7
Selasa, 02 Desember 2025 - 10:05 WIB
Kemenag Ingatkan Darurat Literasi Digital: Risikonya Serius!
LANGIT7.ID-Jakarta;Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kebijakan Publik, SDM, dan Media, Ismail Chawidu, menyampaikan orasi ilmiah bertema “Kementerian Agama Mendorong Digital Religious” pada Wisuda XVI IAIN Bone. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa peningkatan literasi digital merupakan kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus informasi global.
Ismail menjelaskan bahwa kebebasan berkomunikasi yang dijamin oleh UUD 1945 Pasal 28F membawa peluang sekaligus tantangan besar. Seluruh konten informasi dari berbagai belahan dunia kini dapat masuk ke perangkat masyarakat tanpa penyaringan, sehingga setiap individu harus memiliki kemampuan digital yang memadai.
“Akibat rendahnya literasi digital, muncul bullying, penipuan, judi online, dan berbagai persoalan lain. Tidak semua orang mampu memahami informasi dengan baik,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (2/12/2025).
Ia memaparkan bahwa pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah strategis dalam meningkatkan literasi digital masyarakat.
Ismail menjelaskan pilar pertama adalah digital skills (keterampilan digital), yaitu kemampuan menggunakan perangkat dan teknologi dengan benar dan bertanggung jawab. Ia menekankan perlunya pembaruan kemampuan secara berkelanjutan karena perkembangan teknologi sangat cepat.
“Skill kita menggunakan internet itu harus kita pelajari terus-menerus. Kalau kita tidak belajar satu-dua bulan saja, kita akan ketinggalan jauh,” tuturnya.
Pilar kedua adalah digital ethic (etika digital), yakni kemampuan membawa nilai sopan santun, akhlak, dan kebijaksanaan ke ruang digital. Menurutnya, tata krama di dunia nyata harus tetap berlaku di dunia maya. “Etika kita berdigital itu harus kita bawa ke dunia digital—sopan santun kita berkata-kata, kita menulis, dan sebagainya,” katanya.
Ismail menjelaskan bahwa kebebasan berkomunikasi yang dijamin oleh UUD 1945 Pasal 28F membawa peluang sekaligus tantangan besar. Seluruh konten informasi dari berbagai belahan dunia kini dapat masuk ke perangkat masyarakat tanpa penyaringan, sehingga setiap individu harus memiliki kemampuan digital yang memadai.
“Akibat rendahnya literasi digital, muncul bullying, penipuan, judi online, dan berbagai persoalan lain. Tidak semua orang mampu memahami informasi dengan baik,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (2/12/2025).
Ia memaparkan bahwa pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah strategis dalam meningkatkan literasi digital masyarakat.
Ismail menjelaskan pilar pertama adalah digital skills (keterampilan digital), yaitu kemampuan menggunakan perangkat dan teknologi dengan benar dan bertanggung jawab. Ia menekankan perlunya pembaruan kemampuan secara berkelanjutan karena perkembangan teknologi sangat cepat.
“Skill kita menggunakan internet itu harus kita pelajari terus-menerus. Kalau kita tidak belajar satu-dua bulan saja, kita akan ketinggalan jauh,” tuturnya.
Pilar kedua adalah digital ethic (etika digital), yakni kemampuan membawa nilai sopan santun, akhlak, dan kebijaksanaan ke ruang digital. Menurutnya, tata krama di dunia nyata harus tetap berlaku di dunia maya. “Etika kita berdigital itu harus kita bawa ke dunia digital—sopan santun kita berkata-kata, kita menulis, dan sebagainya,” katanya.