Khalifah Utsman bin Affan: Ketika Dua Kekaisaran Tua Kehilangan Nafas
Miftah yusufpati
Kamis, 04 Desember 2025 - 16:26 WIB
Persia dan Romawi tak lagi berdaya, bukan semata kalah strategi, tapi kehilangan jiwa. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Pertanyaan itu berulang dalam diskusi sejarawan: mengapa pada masa Khalifah Utsman bin Affan, ketika politik domestik Madinah mulai goyah, Persia tak lagi bangkit dan Romawi tidak mencoba merebut kembali tanah yang hilang? Di permukaan, kondisi dunia Islam sendiri sedang retak. Di baliknya, dua kekuatan tua Timur dan Barat justru sedang menuju senjakala.
Dalam buku Usman bin Affan karya Muhammad Husain Haekal, digambarkan bahwa stabilitas di Persia dan Afrika bukan sekadar hasil manuver militer. Ada sesuatu yang lebih dalam: sistem sosial dan politik dua kekaisaran itu telah aus. Masyarakatnya terjerat oleh mesin kekuasaan yang kering, bukan cita-cita. Para prajurit Persia dan Romawi berangkat ke medan perang bukan karena keyakinan, melainkan sebagai unit yang bekerja atas perintah elite, mirip catatan Peter Brown tentang kelelahan ideologis Kekaisaran Timur pada abad ke-7.
Keruntuhan moral inilah—menurut Haekal, juga diakui dalam riset Julius Wellhausen hingga Fred Donner—yang membuat pasukan lawan Arab tampak kehilangan gairah bertahan. Mereka tidak melihat masa depan pada sistem yang mereka bela. Kekuasaan hanya mengulang bentuk lama tanpa janji baru. Bahkan hierarki sosial Sasania yang kaku membuat loyalitas lebih bersifat transaksional daripada ideologis.
Sebaliknya, pasukan Muslim datang dengan energi lain: agama baru yang membawa klaim universal, misi persaudaraan, dan imajinasi tatanan baru. Dalam literatur modern, semangat ini kadang disebut oleh Donner sebagai *believers’ movement* — gerakan kaum beriman yang lebih plural dan egaliter pada awal kemunculannya. Energi ideologis semacam itu, bagi dunia yang sedang menua, terasa seperti angin baru.
---
Di Madinah, tentu saja, dunia tidak sepenuhnya ideal. Di masa Usman, bibit-bibit persaingan Quraisy—terutama antara Banu Hasyim dan Banu Umayyah—mulai terlihat. Persoalan administrasi wilayah, kebijakan pengangkatan gubernur, hingga ketegangan sosial antara muhajirin dan pendatang baru (ahl al-amshar) juga mulai membentuk arus bawah yang kelak meledak menjadi pemberontakan.
Namun, sebagaimana dicatat Haekal, ketegangan itu masih samar. Ia lebih mirip awan yang menggantung di kejauhan daripada badai yang sudah tiba. Sentimen-sentimen tribal yang lama hidup di jazirah Arab belum sepenuhnya hilang, tetapi masih berada di bawah radar, tertahan oleh malu, tradisi, dan yang terutama: daya spiritual Islam yang masih sangat kuat.
Dalam buku Usman bin Affan karya Muhammad Husain Haekal, digambarkan bahwa stabilitas di Persia dan Afrika bukan sekadar hasil manuver militer. Ada sesuatu yang lebih dalam: sistem sosial dan politik dua kekaisaran itu telah aus. Masyarakatnya terjerat oleh mesin kekuasaan yang kering, bukan cita-cita. Para prajurit Persia dan Romawi berangkat ke medan perang bukan karena keyakinan, melainkan sebagai unit yang bekerja atas perintah elite, mirip catatan Peter Brown tentang kelelahan ideologis Kekaisaran Timur pada abad ke-7.
Keruntuhan moral inilah—menurut Haekal, juga diakui dalam riset Julius Wellhausen hingga Fred Donner—yang membuat pasukan lawan Arab tampak kehilangan gairah bertahan. Mereka tidak melihat masa depan pada sistem yang mereka bela. Kekuasaan hanya mengulang bentuk lama tanpa janji baru. Bahkan hierarki sosial Sasania yang kaku membuat loyalitas lebih bersifat transaksional daripada ideologis.
Sebaliknya, pasukan Muslim datang dengan energi lain: agama baru yang membawa klaim universal, misi persaudaraan, dan imajinasi tatanan baru. Dalam literatur modern, semangat ini kadang disebut oleh Donner sebagai *believers’ movement* — gerakan kaum beriman yang lebih plural dan egaliter pada awal kemunculannya. Energi ideologis semacam itu, bagi dunia yang sedang menua, terasa seperti angin baru.
---
Di Madinah, tentu saja, dunia tidak sepenuhnya ideal. Di masa Usman, bibit-bibit persaingan Quraisy—terutama antara Banu Hasyim dan Banu Umayyah—mulai terlihat. Persoalan administrasi wilayah, kebijakan pengangkatan gubernur, hingga ketegangan sosial antara muhajirin dan pendatang baru (ahl al-amshar) juga mulai membentuk arus bawah yang kelak meledak menjadi pemberontakan.
Namun, sebagaimana dicatat Haekal, ketegangan itu masih samar. Ia lebih mirip awan yang menggantung di kejauhan daripada badai yang sudah tiba. Sentimen-sentimen tribal yang lama hidup di jazirah Arab belum sepenuhnya hilang, tetapi masih berada di bawah radar, tertahan oleh malu, tradisi, dan yang terutama: daya spiritual Islam yang masih sangat kuat.