Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 18 Mei 2026
home masjid detail berita

Khalifah Utsman bin Affan: Ketika Dua Kekaisaran Tua Kehilangan Nafas

miftah yusufpati Kamis, 04 Desember 2025 - 16:26 WIB
Khalifah Utsman bin Affan: Ketika Dua Kekaisaran Tua Kehilangan Nafas
Persia dan Romawi tak lagi berdaya, bukan semata kalah strategi, tapi kehilangan jiwa. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Pertanyaan itu berulang dalam diskusi sejarawan: mengapa pada masa Khalifah Utsman bin Affan, ketika politik domestik Madinah mulai goyah, Persia tak lagi bangkit dan Romawi tidak mencoba merebut kembali tanah yang hilang? Di permukaan, kondisi dunia Islam sendiri sedang retak. Di baliknya, dua kekuatan tua Timur dan Barat justru sedang menuju senjakala.

Dalam buku Usman bin Affan karya Muhammad Husain Haekal, digambarkan bahwa stabilitas di Persia dan Afrika bukan sekadar hasil manuver militer. Ada sesuatu yang lebih dalam: sistem sosial dan politik dua kekaisaran itu telah aus. Masyarakatnya terjerat oleh mesin kekuasaan yang kering, bukan cita-cita. Para prajurit Persia dan Romawi berangkat ke medan perang bukan karena keyakinan, melainkan sebagai unit yang bekerja atas perintah elite, mirip catatan Peter Brown tentang kelelahan ideologis Kekaisaran Timur pada abad ke-7.

Keruntuhan moral inilah—menurut Haekal, juga diakui dalam riset Julius Wellhausen hingga Fred Donner—yang membuat pasukan lawan Arab tampak kehilangan gairah bertahan. Mereka tidak melihat masa depan pada sistem yang mereka bela. Kekuasaan hanya mengulang bentuk lama tanpa janji baru. Bahkan hierarki sosial Sasania yang kaku membuat loyalitas lebih bersifat transaksional daripada ideologis.

Sebaliknya, pasukan Muslim datang dengan energi lain: agama baru yang membawa klaim universal, misi persaudaraan, dan imajinasi tatanan baru. Dalam literatur modern, semangat ini kadang disebut oleh Donner sebagai *believers’ movement* — gerakan kaum beriman yang lebih plural dan egaliter pada awal kemunculannya. Energi ideologis semacam itu, bagi dunia yang sedang menua, terasa seperti angin baru.

---

Di Madinah, tentu saja, dunia tidak sepenuhnya ideal. Di masa Usman, bibit-bibit persaingan Quraisy—terutama antara Banu Hasyim dan Banu Umayyah—mulai terlihat. Persoalan administrasi wilayah, kebijakan pengangkatan gubernur, hingga ketegangan sosial antara muhajirin dan pendatang baru (ahl al-amshar) juga mulai membentuk arus bawah yang kelak meledak menjadi pemberontakan.

Namun, sebagaimana dicatat Haekal, ketegangan itu masih samar. Ia lebih mirip awan yang menggantung di kejauhan daripada badai yang sudah tiba. Sentimen-sentimen tribal yang lama hidup di jazirah Arab belum sepenuhnya hilang, tetapi masih berada di bawah radar, tertahan oleh malu, tradisi, dan yang terutama: daya spiritual Islam yang masih sangat kuat.

Para tentara Muslim yang bergerak ke Persia dan Syam masih percaya bahwa mereka sedang menjalankan misi sejarah. Dalam horizon mereka, seperti disebut Marshall Hodgson, kebangkitan Islam adalah proyek moral global, bukan ekspansi teritorial semata. Kesadaran ini membuat pasukan-pasukan kecil dari Madinah dan Kufah mampu mengalahkan militer raksasa yang jauh lebih tua.

---

Pertanyaan Haekal—apa jadinya jika perpecahan internal tidak terjadi—menggantung sebagai spekulasi sejarah. Seandainya konflik yang kelak menewaskan Usman dapat diredam, mungkin dunia Islam awal bisa bergerak lebih jauh, memanfaatkan momentum ketika dua kekaisaran besar tengah menurun. Tetapi sejarah memiliki jalannya sendiri: pusat dunia Islam justru terperosok ke konflik politik domestik yang panjang, dari fitnah kubra hingga perang saudara.

Meski begitu, kemenangan awal di Persia dan Suriah bukan hanya tentang strategi atau jumlah pasukan, tetapi lebih tentang kontras antara dua dunia: satu kekuasaan lama yang kehilangan alasan untuk dipertahankan, dan satu kekuatan baru yang datang dengan keyakinan yang masih menyala. Sejarah jarang berpihak pada kerajaan besar—ia berpihak pada mereka yang paling yakin tentang masa depan yang ingin mereka bangun.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 18 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)