home masjid

Kisah Pembelaan Utsman bin Affan saat Kedatangan Delegasi ke Madinah

Senin, 15 Desember 2025 - 16:00 WIB
Mereka menyamar sebagai jamaah haji dan mencoba mencari figur pengganti khalifah. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Bulan Rajab tahun 35 Hijriah menjadi titik balik krisis politik pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Dari Mesir, sebuah delegasi besar bergerak ke Madinah. Secara lahiriah, mereka mengaku ingin meminta klarifikasi atas sejumlah kebijakan khalifah. Namun, sebagaimana dicatat Muhammad Husain Haekal dalam Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan, agenda sesungguhnya jauh lebih gelap: menggalang legitimasi publik untuk menjatuhkan, bahkan membunuh, kepala negara.

Utsman tidak menutup mata. Ia mengutus dua orang dari Bani Makhzum dan Bani Zuhrah untuk menyelidiki maksud rombongan itu. Laporan yang diterima sangat jelas: delegasi Mesir berniat berpura-pura sebagai pencari fatwa, lalu kembali sebagai jamaah haji, mengepung Madinah, memecat khalifah, dan membunuhnya bila menolak turun.

Respons Utsman justru mengejutkan. Alih-alih memerintahkan penangkapan, ia tertawa dan berkata agar mereka dilindungi. Sikap ini, menurut sebagian sejarawan seperti Wilferd Madelung, mencerminkan watak Utsman yang legalistik dan enggan menumpahkan darah sesama Muslim, bahkan ketika ancaman sudah nyata.

Utsman lalu memanggil kaum Muslimin untuk berkumpul di Masjid Nabawi. Di hadapan para sahabat Nabi, ia membuka khutbah dengan memaparkan rencana delegasi Mesir. Sebagian hadirin mendesak tindakan keras. Bahkan dikutip sebuah hadis tentang legitimasi membunuh pengklaim kekuasaan. Namun Utsman menolak. Baginya, hukuman hanya sah dijatuhkan atas pelanggaran nyata, bukan niat yang belum terwujud.

Di forum terbuka itu, Utsman satu per satu menanggapi tuduhan politik yang dialamatkan kepadanya. Soal salat sempurna dalam perjalanan, ia jelaskan karena berada di kota tempat keluarganya tinggal. Soal tudingan melindungi yang terlarang, ia paparkan kondisi ekonomi pribadinya yang justru merosot. Tentang penarikan kembali Hakam bin As, Utsman mengaitkannya langsung dengan preseden Rasulullah.

Isu favorit para penentangnya, nepotisme, juga dijawab secara terbuka. Utsman mengakui kecintaannya pada keluarga, namun menolak anggapan bahwa ia menggunakan baitul mal untuk kepentingan mereka. Ia menegaskan, pemberian kepada kerabat berasal dari hartanya sendiri, bahkan sejak masa Nabi, Abu Bakar, dan Umar.

Publik Masjid Nabawi mengamini pembelaan itu. Mereka kembali mendesak agar pemberontak ditindak. Sekali lagi Utsman memilih maaf. Ia meminta delegasi kembali ke negeri masing-masing, berharap ketegangan mereda.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya