Menag Sebut Asesmen Baca Al-Qur’an Jadi Langkah Awal Perbaikan Literasi Keagamaan
Tim langit 7
Kamis, 18 Desember 2025 - 13:22 WIB
Menag Sebut Asesmen Baca Al-Quran Jadi Langkah Awal Perbaikan Literasi Keagamaan
LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Agama menegaskan bahwa pelaksanaan Asesmen Baca Al-Qur’an menjadi langkah awal atau prolog untuk memperbaiki literasi keagamaan umat Islam secara nasional. Penegasan itu disampaikan saat Ekspos Publik Hasil Asesmen Tuntas Baca Al-Qur’an (TBQ) yang digelar oleh Kementerian Agama di Ballroom Hotel Sahid Jaya Sudirman, Rabu (17/12).
Dalam pemaparannya, Menteri Agama menjelaskan bahwa asesmen yang dilakukan saat ini masih bersifat terbatas karena baru mengambil sampel dari Pulau Jawa. Meski demikian, hasil tersebut dinilai cukup memberi gambaran awal yang penting dan harus segera ditindaklanjuti secara serius.
“Kalau kita ingin mengukur kondisi Indonesia, tentu sampelnya tidak cukup hanya Pulau Jawa. Apalagi Jawa saja baru sekitar 41 persen yang bisa membaca Al-Qur’an dengan baik. Ini harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (18/12/2025).
Menurut Menteri Agama, hasil asesmen TBQ menunjukkan urgensi penguatan kemampuan baca Al-Qur’an, mengingat posisi Al-Qur’an yang sangat sentral dalam praktik ibadah umat Islam. Ia menegaskan bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an dengan benar merupakan fondasi dasar keberagamaan.
“Dalam Islam, Al-Qur’an itu bukan sekadar kitab, tetapi bacaan. Tidak ada salat tanpa membaca Surah Al-Fatihah. Karena itu, kemampuan membaca Al-Qur’an dengan benar adalah fondasi dasar keberagamaan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa wahyu Al-Qur’an pertama kali diturunkan dengan perintah iqra’ atau membaca, bukan menulis. Karena itu, menurutnya, pendidikan Al-Qur’an harus memberi penekanan utama pada aspek tilawah yang benar sesuai kaidah.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Agama mengapresiasi keterlibatan Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta sebagai asesor dalam pelaksanaan asesmen. Ia menilai PTIQ memiliki tradisi keilmuan yang ketat dalam menjaga kualitas bacaan Al-Qur’an, mulai dari makhraj, tajwid, hingga sanad keilmuan.
Dalam pemaparannya, Menteri Agama menjelaskan bahwa asesmen yang dilakukan saat ini masih bersifat terbatas karena baru mengambil sampel dari Pulau Jawa. Meski demikian, hasil tersebut dinilai cukup memberi gambaran awal yang penting dan harus segera ditindaklanjuti secara serius.
“Kalau kita ingin mengukur kondisi Indonesia, tentu sampelnya tidak cukup hanya Pulau Jawa. Apalagi Jawa saja baru sekitar 41 persen yang bisa membaca Al-Qur’an dengan baik. Ini harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (18/12/2025).
Menurut Menteri Agama, hasil asesmen TBQ menunjukkan urgensi penguatan kemampuan baca Al-Qur’an, mengingat posisi Al-Qur’an yang sangat sentral dalam praktik ibadah umat Islam. Ia menegaskan bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an dengan benar merupakan fondasi dasar keberagamaan.
“Dalam Islam, Al-Qur’an itu bukan sekadar kitab, tetapi bacaan. Tidak ada salat tanpa membaca Surah Al-Fatihah. Karena itu, kemampuan membaca Al-Qur’an dengan benar adalah fondasi dasar keberagamaan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa wahyu Al-Qur’an pertama kali diturunkan dengan perintah iqra’ atau membaca, bukan menulis. Karena itu, menurutnya, pendidikan Al-Qur’an harus memberi penekanan utama pada aspek tilawah yang benar sesuai kaidah.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Agama mengapresiasi keterlibatan Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta sebagai asesor dalam pelaksanaan asesmen. Ia menilai PTIQ memiliki tradisi keilmuan yang ketat dalam menjaga kualitas bacaan Al-Qur’an, mulai dari makhraj, tajwid, hingga sanad keilmuan.