Kementerian Kebudayaan Gelar Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025, Soroti Peran Nyata Pelaku Budaya di Tanah Air
Tim langit 7
Kamis, 18 Desember 2025 - 13:27 WIB
Kementerian Kebudayaan Gelar Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025, Soroti Peran Nyata Pelaku Budaya di Tanah Air
LANGIT7.ID-Jakarta; Kementerian Kebudayaan kembali menggelar Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 sebagai bentuk penghargaan tertinggi negara di bidang kebudayaan. Bertempat di Ciputra Artpreneur, Jakarta, penyelenggaraan AKI Tahap III ini mengusung tema Renjana Penggerak Budaya, yang menegaskan bahwa kebudayaan terus hidup dan berkembang berkat api renjana yang senantiasa menyala dalam diri para pelaku budaya.
Pada kesempatan ini, AKI 2025 memberikan penghargaan kepada para pelaku budaya pada sejumlah kategori, yakni Maestro Seni Tradisi, Pelestari, Pelopor dan/atau Pembaru, Media, Anak, Masyarakat Adat, dan Sastra. Ragam kategori tersebut merefleksikan luasnya peran pelaku budaya, mulai dari penjaga tradisi hingga agen transformasi, yang memastikan kebudayaan tetap hidup, adaptif, dan relevan di tengah tantangan global yang kian kompleks, seperti globalisasi, krisis ekologis, dan disrupsi teknologi.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dalam sambutannya menegaskan bahwa Anugerah Kebudayaan Indonesia diselenggarakan sebagai penanda kehadiran negara dalam kerja kebudayaan. Negara hadir bukan untuk menggantikan peran komunitas, sanggar, tokoh adat, seniman, dan pelaku budaya, melainkan untuk menegaskan bahwa dedikasi mereka memiliki arti strategis bagi kehidupan bersama.
“AKI 2025 dirancang secara bertahap agar kita dapat melihat kebudayaan secara menyeluruh, bukan hanya sebagai prestasi individual, namun sebagai ekosistem yang hidup. Setiap penghargaan yang diberikan menjadi pengakuan negara atas kerja-kerja yang menjaga ingatan, memperkaya imajinasi, dan merawat keberlanjutan identitas Indonesia,” ujar Menteri Fadli Zon dalam keterangan resmi, Kamis (18/12/2025).
Selain penganugerahan kepada tujuh kategori utama, Kementerian Kebudayaan juga menganugerahkan Satya Budaya Narendra sebagai bentuk apresiasi khusus Menteri Kebudayaan kepada tokoh-tokoh budaya yang perjuangan, jasa, serta karya-karyanya telah menjadi rujukan dan memberikan dampak luas bagi pemajuan kebudayaan Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Di samping itu, sejalan dengan situasi kebencanaan yang tengah terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, Kementerian Kebudayaan juga menyerahkan bantuan trauma healing secara simbolis kepada para seniman terdampak bencana sebagai wujud kehadiran negara dalam merawat, mendampingi, dan mendukung proses pemulihan.
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra dalam laporannya turut menyampaikan bahwa AKI 2025 menjadi momentum bagi semua pihak untuk terus berkomitmen dalam merawat budaya. “AKI adalah pengingat bahwa kekuatan bangsa ini tidak hanya terletak pada apa yang kita bangun, tetapi pada nilai yang kita rawat bersama. Di tengah tantangan zaman dan ujian kemanusiaan, kebudayaan memberi kita arah, keteguhan, dan harapan. Semoga penghormatan malam ini menjadi penegas bahwa selama kita setia merawat kebudayaan, melalui karya, keteladanan, dan gotong royong, Indonesia akan selalu memiliki daya untuk bangkit, bertumbuh, dan melangkah ke depan dengan martabat,” ujarnya.
Pada kesempatan ini, AKI 2025 memberikan penghargaan kepada para pelaku budaya pada sejumlah kategori, yakni Maestro Seni Tradisi, Pelestari, Pelopor dan/atau Pembaru, Media, Anak, Masyarakat Adat, dan Sastra. Ragam kategori tersebut merefleksikan luasnya peran pelaku budaya, mulai dari penjaga tradisi hingga agen transformasi, yang memastikan kebudayaan tetap hidup, adaptif, dan relevan di tengah tantangan global yang kian kompleks, seperti globalisasi, krisis ekologis, dan disrupsi teknologi.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dalam sambutannya menegaskan bahwa Anugerah Kebudayaan Indonesia diselenggarakan sebagai penanda kehadiran negara dalam kerja kebudayaan. Negara hadir bukan untuk menggantikan peran komunitas, sanggar, tokoh adat, seniman, dan pelaku budaya, melainkan untuk menegaskan bahwa dedikasi mereka memiliki arti strategis bagi kehidupan bersama.
“AKI 2025 dirancang secara bertahap agar kita dapat melihat kebudayaan secara menyeluruh, bukan hanya sebagai prestasi individual, namun sebagai ekosistem yang hidup. Setiap penghargaan yang diberikan menjadi pengakuan negara atas kerja-kerja yang menjaga ingatan, memperkaya imajinasi, dan merawat keberlanjutan identitas Indonesia,” ujar Menteri Fadli Zon dalam keterangan resmi, Kamis (18/12/2025).
Selain penganugerahan kepada tujuh kategori utama, Kementerian Kebudayaan juga menganugerahkan Satya Budaya Narendra sebagai bentuk apresiasi khusus Menteri Kebudayaan kepada tokoh-tokoh budaya yang perjuangan, jasa, serta karya-karyanya telah menjadi rujukan dan memberikan dampak luas bagi pemajuan kebudayaan Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Di samping itu, sejalan dengan situasi kebencanaan yang tengah terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, Kementerian Kebudayaan juga menyerahkan bantuan trauma healing secara simbolis kepada para seniman terdampak bencana sebagai wujud kehadiran negara dalam merawat, mendampingi, dan mendukung proses pemulihan.
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra dalam laporannya turut menyampaikan bahwa AKI 2025 menjadi momentum bagi semua pihak untuk terus berkomitmen dalam merawat budaya. “AKI adalah pengingat bahwa kekuatan bangsa ini tidak hanya terletak pada apa yang kita bangun, tetapi pada nilai yang kita rawat bersama. Di tengah tantangan zaman dan ujian kemanusiaan, kebudayaan memberi kita arah, keteguhan, dan harapan. Semoga penghormatan malam ini menjadi penegas bahwa selama kita setia merawat kebudayaan, melalui karya, keteladanan, dan gotong royong, Indonesia akan selalu memiliki daya untuk bangkit, bertumbuh, dan melangkah ke depan dengan martabat,” ujarnya.