home masjid

Ma’rib: Bendungan, Berkah, dan Banjir yang Mengakhiri Sebuah Peradaban

Kamis, 18 Desember 2025 - 16:31 WIB
Kisah Marib bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah laporan tentang bagaimana teknologi, kekuasaan, dan iman harus berjalan seiring. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Mengapa sebuah lembah di selatan Jazirah Arab pernah begitu subur, sementara wilayah di sekitarnya dikenal gersang? Jawabannya terletak pada satu bangunan raksasa: Bendungan Ma’rib, atau yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai ‘Arim. Struktur sepanjang 620 meter, lebar 60 meter, dan tinggi 16 meter itu menjadi tulang punggung peradaban kaum Saba’.

Sejarawan dan arkeolog modern menyebut Bendungan Ma’rib sebagai salah satu prestasi teknik hidrolik paling maju di dunia kuno. Jacques Ryckmans dan Wendell Phillips mencatat bahwa bendungan ini memungkinkan pengaturan air hujan musiman secara presisi, mengairi kebun-kebun luas di kanan dan kiri lembah. Al-Qur’an merekam kemakmuran itu dengan singkat namun padat makna:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ

Sungguh, bagi kaum Saba’ terdapat suatu tanda (kekuasaan Allah) di tempat tinggal mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.” (QS. Saba’: 15)

Teknologi bendungan bukan sekadar solusi teknis. Dalam sejumlah tafsir klasik, seperti karya ath-Thabari dan al-Qurthubi, pembangunan bendungan juga dipahami sebagai respons politik terhadap konflik perebutan air. Riwayat yang dikutip Ibnu Katsir dan al-Baghawi menyebut Ratu Bilqis sebagai figur sentral yang memprakarsai bendungan demi mencegah pertumpahan darah akibat sengketa sumber daya.

Dengan bendungan itu, air tidak lagi menjadi ancaman atau rebutan. Ia menjadi berkah bersama. Pertanian tumbuh, perdagangan berkembang, dan Ma’rib menjelma pusat kemakmuran. Namun Al-Qur’an segera menambahkan prasyarat moral atas keberlimpahan itu:

كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya