Terima Replika Prasasti Nalanda, Menteri Kebudayaan Dorong Muarajambi Menuju Warisan Dunia
Tim langit 7
Jum'at, 19 Desember 2025 - 16:04 WIB
Terima Replika Prasasti Nalanda, Menteri Kebudayaan Dorong Muarajambi Menuju Warisan Dunia
LANGIT7.ID-Jakarta; Dalam rangkaian kunjungan kerja ke Provinsi Jambi, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menerima replika Prasasti Lempeng Tembaga Nalanda dari Pemerintah India. Replika tersebut diserahkan oleh Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Endah T. D. Retnoastuti, di Museum Muarajambi, Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi.
Diketahui, replika Prasasti Lempeng Tembaga Nalanda tersebut diberikan oleh Pemerintah India kepada Pemerintah Indonesia di sela-sela Sidang Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO yang berlangsung di New Delhi pada 9 Desember 2025 silam. Penyerahan tersebut merupakan buah dari upaya diplomasi kebudayaan yang dilakukan secara intensif oleh Kementerian Kebudayaan, termasuk melalui pertemuan bilateral tingkat Menteri pada kunjungan kenegaraan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, ke India pada Januari 2025 lalu.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa penerimaan replika Prasasti Lempeng Tembaga Nalanda memiliki makna strategis bagi penguatan narasi sejarah Indonesia, khususnya keterkaitan Muarajambi dengan pusat-pusat pembelajaran dan peradaban dunia pada masa lampau.
“Prasasti ini secara jelas menghubungkan Muarajambi dengan Nalanda, Sriwijaya, Dinasti Syailendra, dan Dinasti Pala di India. Ini bukan sekadar artefak, melainkan bukti konkret bahwa kawasan Muarajambi merupakan simpul penting jejaring ilmu pengetahuan, agama, dan diplomasi budaya internasional sejak abad ke-9,” ujar Menteri Kebudayaan dalam keterangan resmi, Jumat (19/12/2025).
Menteri Kebudayaan juga menyoroti perkembangan KCBN Muarajambi yang terus menunjukkan kemajuan signifikan dari waktu ke waktu. Dengan luas hampir 4.000 hektar dan lebih dari 90 bangunan candi, Muarajambi merupakan kawasan cagar budaya terluas di Asia Tenggara dan menyimpan tantangan sekaligus potensi besar dalam pengelolaannya.
“Kita tidak ingin pelestarian berhenti pada pemugaran fisik semata. Muarajambi harus dikembangkan sebagai satu ekosistem budaya, di antaranya melalui revitalisasi kawasan, pemugaran candi, penguatan museum, riset akademik, serta aktivasi budaya yang melibatkan masyarakat, komunitas, dunia pendidikan, dan sektor swasta,” tegasnya.
Dirinya turut menambahkan bahwa pemerintah tengah mempercepat penataan Museum Muarajambi, termasuk penyusunan alur cerita pameran (storyline) dan tata pamer, agar museum tersebut dapat menjadi pusat interpretasi sejarah dan peradaban Muarajambi yang komprehensif, baik bagi masyarakat nasional maupun internasional.
Diketahui, replika Prasasti Lempeng Tembaga Nalanda tersebut diberikan oleh Pemerintah India kepada Pemerintah Indonesia di sela-sela Sidang Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO yang berlangsung di New Delhi pada 9 Desember 2025 silam. Penyerahan tersebut merupakan buah dari upaya diplomasi kebudayaan yang dilakukan secara intensif oleh Kementerian Kebudayaan, termasuk melalui pertemuan bilateral tingkat Menteri pada kunjungan kenegaraan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, ke India pada Januari 2025 lalu.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa penerimaan replika Prasasti Lempeng Tembaga Nalanda memiliki makna strategis bagi penguatan narasi sejarah Indonesia, khususnya keterkaitan Muarajambi dengan pusat-pusat pembelajaran dan peradaban dunia pada masa lampau.
“Prasasti ini secara jelas menghubungkan Muarajambi dengan Nalanda, Sriwijaya, Dinasti Syailendra, dan Dinasti Pala di India. Ini bukan sekadar artefak, melainkan bukti konkret bahwa kawasan Muarajambi merupakan simpul penting jejaring ilmu pengetahuan, agama, dan diplomasi budaya internasional sejak abad ke-9,” ujar Menteri Kebudayaan dalam keterangan resmi, Jumat (19/12/2025).
Menteri Kebudayaan juga menyoroti perkembangan KCBN Muarajambi yang terus menunjukkan kemajuan signifikan dari waktu ke waktu. Dengan luas hampir 4.000 hektar dan lebih dari 90 bangunan candi, Muarajambi merupakan kawasan cagar budaya terluas di Asia Tenggara dan menyimpan tantangan sekaligus potensi besar dalam pengelolaannya.
“Kita tidak ingin pelestarian berhenti pada pemugaran fisik semata. Muarajambi harus dikembangkan sebagai satu ekosistem budaya, di antaranya melalui revitalisasi kawasan, pemugaran candi, penguatan museum, riset akademik, serta aktivasi budaya yang melibatkan masyarakat, komunitas, dunia pendidikan, dan sektor swasta,” tegasnya.
Dirinya turut menambahkan bahwa pemerintah tengah mempercepat penataan Museum Muarajambi, termasuk penyusunan alur cerita pameran (storyline) dan tata pamer, agar museum tersebut dapat menjadi pusat interpretasi sejarah dan peradaban Muarajambi yang komprehensif, baik bagi masyarakat nasional maupun internasional.