home sosok muslim

Ustadz Jazir Wafat, Warisan Pemberdayaan Masjid Jogokariyan Tetap Hidup

Senin, 22 Desember 2025 - 09:07 WIB
Ustadz Jazir Wafat, Warisan Pemberdayaan Masjid Jogokariyan Tetap Hidup
LANGIT7.ID-Jakarta; Model pemberdayaan Masjid Jogokariyan yang selama ini menjadi rujukan pengelolaan masjid di berbagai daerah Indonesia tak bisa dilepaskan dari sosok Ustaz Jazir ASP. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam sekaligus ruang kosong dalam gerakan memakmurkan masjid, bukan hanya bagi warga Mantrijeron, Kota Yogyakarta, tetapi juga bagi banyak komunitas Muslim di berbagai penjuru Tanah Air.

Bernama lengkap Muhammad Jazir, ia mendedikasikan hidupnya untuk satu gagasan utama: mengembalikan masjid sebagai pusat peradaban umat Islam. Bagi Ustaz Jazir, masjid tidak boleh berhenti sebagai tempat ibadah ritual, tetapi harus hadir sebagai pusat pelayanan sosial, pendidikan, dan penguatan ekonomi umat. Gagasan ini ia wujudkan secara konsisten melalui tata kelola Masjid Jogokariyan.

Sejak dipercaya memimpin takmir Masjid Jogokariyan pada 1999, arah pengelolaan masjid berubah signifikan. Seluruh program dirancang agar menyentuh kebutuhan nyata masyarakat sekitar, sekaligus menumbuhkan partisipasi jamaah sebagai subjek, bukan sekadar penerima manfaat.

Ustaz Jazir kerap menegaskan bahwa kekuatan masjid terletak pada manusianya. Dengan penampilan khas bernuansa Jawa, ia menekankan bahwa “jiwa” masjid adalah umat Islam, bukan bangunan fisiknya. Setiap insan, menurutnya, telah dianugerahi akal dan hati oleh Allah Ta’ala untuk berkontribusi dalam memakmurkan masjid.

Baca juga: Ustadz Jazir ASP, Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, Wafat

Kecintaannya pada aktivitas pemakmuran masjid tumbuh sejak muda. Latar belakang pendidikannya di Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga serta Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia membentuk pendekatan dakwah yang sistematis dan terukur. Sebelum aktif di ketakmiran Masjid Jogokariyan, ia telah lama berkecimpung di dunia pendidikan.

Pada 1986, Ustaz Jazir merintis Taman Kanak-Kanak Alquran dengan metode pengajaran yang kemudian berkembang luas. Model ini tidak hanya diterapkan di Yogyakarta, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di Indonesia hingga sejumlah negara Asia Tenggara. Atas kontribusi tersebut, Presiden RI saat itu, BJ Habibie, menganugerahkan kepadanya penghargaan Tokoh Perintis Gerakan Alquran Tingkat Nasional.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya