Hikmah Ayat Ilmiah: Ketika Wahyu Tidak Menjadi Buku Sains
Miftah yusufpati
Selasa, 23 Desember 2025 - 05:40 WIB
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di tengah euforia pencarian “mukjizat ilmiah” dalam Al-Quran, M. Quraish Shihab mengingatkan satu hal mendasar: wahyu tidak pernah dimaksudkan sebagai ensiklopedia ilmu pengetahuan. Dalam Membumikan Al-Quran, ia menegaskan bahwa ayat-ayat kauniyah hadir bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu saintifik manusia, melainkan untuk menggugah kesadaran ketuhanan.
Al-Quran memang menyinggung langit, bumi, peredaran bulan, penciptaan manusia, hingga fenomena alam. Namun, sebagaimana dikutip Quraish Shihab dari tafsir Mahmud Syaltut, penyebutan itu tidak pernah jatuh pada uraian teknis atau teoritis. “Tuhan tidak menurunkan Al-Quran untuk menerangkan teori-teori ilmiah,” tulis Syaltut, “melainkan sebagai petunjuk dan pembimbing kehidupan.”
Asbab al-nuzul surat Al-Baqarah ayat 189 menjadi contoh klasik. Ketika seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad tentang perubahan bentuk bulan, Al-Quran tidak menjawab dengan penjelasan astronomi. Jawabannya justru bersifat fungsional: bulan adalah penanda waktu bagi manusia dan ibadah haji. Sains ditangguhkan; makna ditonjolkan.
Hal serupa terjadi saat manusia bertanya tentang hakikat ruh. Jawaban Al-Quran singkat dan tegas: ruh adalah urusan Tuhan, dan manusia hanya diberi sedikit pengetahuan. Di titik ini, wahyu seakan menarik garis batas antara wilayah iman dan wilayah ilmu.
Bagi Quraish Shihab, pendekatan ini menunjukkan konsistensi tujuan Al-Quran. Ia bukan kitab haqaiq al-kawn—penjelasan rinci tentang hukum alam—melainkan kitab hidayah, ishlah, dan tasyri’. Ayat-ayat seperti “tidak Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Kitab” atau “penjelas segala sesuatu” harus dibaca dalam bingkai tujuan tersebut: akidah, syariat, dan akhlak.
Pandangan ini sejalan dengan Fazlur Rahman yang menilai bahwa Al-Quran berbicara tentang alam dalam bahasa moral, bukan bahasa laboratorium. Sementara itu, Toshihiko Izutsu melihat kosmos Al-Quran sebagai sistem tanda yang menunjuk kepada Yang Maha Esa, bukan objek netral kajian ilmiah.
Dengan demikian, ayat-ayat ilmiah bukanlah legitimasi instan bagi teori sains modern, apalagi alat pembuktian iman. Ia justru undangan terbuka untuk berpikir, meneliti, dan merenung—agar pengetahuan manusia berujung pada kesadaran etis dan ketundukan spiritual.
Al-Quran memang menyinggung langit, bumi, peredaran bulan, penciptaan manusia, hingga fenomena alam. Namun, sebagaimana dikutip Quraish Shihab dari tafsir Mahmud Syaltut, penyebutan itu tidak pernah jatuh pada uraian teknis atau teoritis. “Tuhan tidak menurunkan Al-Quran untuk menerangkan teori-teori ilmiah,” tulis Syaltut, “melainkan sebagai petunjuk dan pembimbing kehidupan.”
Asbab al-nuzul surat Al-Baqarah ayat 189 menjadi contoh klasik. Ketika seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad tentang perubahan bentuk bulan, Al-Quran tidak menjawab dengan penjelasan astronomi. Jawabannya justru bersifat fungsional: bulan adalah penanda waktu bagi manusia dan ibadah haji. Sains ditangguhkan; makna ditonjolkan.
Hal serupa terjadi saat manusia bertanya tentang hakikat ruh. Jawaban Al-Quran singkat dan tegas: ruh adalah urusan Tuhan, dan manusia hanya diberi sedikit pengetahuan. Di titik ini, wahyu seakan menarik garis batas antara wilayah iman dan wilayah ilmu.
Bagi Quraish Shihab, pendekatan ini menunjukkan konsistensi tujuan Al-Quran. Ia bukan kitab haqaiq al-kawn—penjelasan rinci tentang hukum alam—melainkan kitab hidayah, ishlah, dan tasyri’. Ayat-ayat seperti “tidak Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Kitab” atau “penjelas segala sesuatu” harus dibaca dalam bingkai tujuan tersebut: akidah, syariat, dan akhlak.
Pandangan ini sejalan dengan Fazlur Rahman yang menilai bahwa Al-Quran berbicara tentang alam dalam bahasa moral, bukan bahasa laboratorium. Sementara itu, Toshihiko Izutsu melihat kosmos Al-Quran sebagai sistem tanda yang menunjuk kepada Yang Maha Esa, bukan objek netral kajian ilmiah.
Dengan demikian, ayat-ayat ilmiah bukanlah legitimasi instan bagi teori sains modern, apalagi alat pembuktian iman. Ia justru undangan terbuka untuk berpikir, meneliti, dan merenung—agar pengetahuan manusia berujung pada kesadaran etis dan ketundukan spiritual.