Nalar Wahyu di Laboratorium Zaman: Mencari Manusia dalam Bayang Ayat-Ayat Tuhan
LANGIT7.ID-Di rak perpustakaan yang berdebu maupun di meja kerja para pemikir kontemporer, sebuah pertanyaan klasik sering kali muncul kembali: di mana posisi teks suci saat sains dan filsafat mulai mendikte nalar manusia? M. Quraish Shihab, melalui karyanya Membumikan Al-Quran, mencoba menarik garis tegas bahwa wahyu tidak pernah duduk di bangku cadangan sejarah. Baginya, kitab suci adalah sebuah ekosistem yang mengatur tujuan, cara, dan pembuktian bagi eksistensi manusia.
Gagasan Quraish ini sejalan dengan kegelisahan para pemikir Islam modernis. Al-Quran bukan sekadar kumpulan hukum halal dan haram, melainkan sebuah instrumen etis. Hal ini mengingatkan kita pada argumen Fazlur Rahman dalam Major Themes of the Quran, yang menekankan bahwa fokus utama Al-Quran adalah manusia dan perilaku moralnya di bumi, bukan sekadar abstraksi metafisika. Quraish membagi kandungan pokok wahyu ke dalam tiga pilar: akidah, budi pekerti, dan hukum. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang disebut sebagai arah atau tujuan hidup manusia.
Namun, bagaimana teks abad ketujuh ini berbicara pada nalar ilmiah hari ini? Di sinilah Quraish menawarkan perspektif tentang cara. Al-Quran mendorong manusia untuk mengobservasi alam raya, mulai dari gugusan bintang hingga kedalaman samudera. Ini bukan sekadar anjuran untuk bertasbih, melainkan mandat untuk riset. Dalam bahasa filsafat ilmu, Al-Quran menyediakan kerangka epistemologi yang menempatkan alam semesta sebagai ayat kauniyah yang harus dibaca secara empiris.
Tak berhenti di sana, aspek filsafat manusia disentuh melalui penggalian rasa yang terpendam dalam jiwa. Al-Quran mengajukan pertanyaan-pertanyaan ontologis: dari mana manusia berasal dan ke mana mereka akan pergi? Jawaban yang diberikan bukan sekadar hiburan spiritual, melainkan solusi atas krisis identitas yang sering dibahas oleh para eksistensialis Barat.
Puncaknya adalah pembuktian. Quraish menyoroti mukjizat Al-Quran dari sisi sastra, isyarat ilmiah, hingga ramalan sejarah. Hal ini menguatkan posisi Al-Quran sebagai pemberi jalan keluar atas perselisihan manusia, seperti yang termaktub dalam Surat Al-Baqarah ayat 213. Dengan gaya interpretatif ini, kita melihat bahwa membumikan Al-Quran berarti menjadikan wahyu sebagai mitra dialog bagi sains dan filsafat, bukan musuh yang harus dihindari. Di tangan para pemikir seperti Quraish, Islam tampil sebagai sistem yang menghargai akal tanpa kehilangan arah ketuhanan.