home masjid

Menggugat Manusia Tanpa Jiwa: Kompas Spiritual di Tengah Badai Sains

Senin, 29 Desember 2025 - 05:15 WIB
Al-Quran hadir sebagai kompas bagi manusia modern yang terasing oleh materialisme. Ilustarsi: Ist

LANGIT7.ID- Sejarah peradaban Barat adalah rentetan peristiwa penggulingan takhta. Dimulai ketika Galileo Galilei mematahkan dogma bahwa bumi adalah pusat semesta, manusia perlahan kehilangan jangkar kepastiannya. Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Quran memotret kegalauan ini sebagai awal dari krisis keimanan yang akut. Ketika bumi hanya dianggap bintik kecil di tengah luasnya galaksi, martabat manusia yang sebelumnya dipandang sebagai pusat perhatian Tuhan pun turut goyah.

Krisis itu mencapai puncaknya saat Charles Darwin melontarkan teori evolusi. Manusia, yang semula diyakini sebagai kreasi istimewa, mulai dilihat hanya sebagai kelanjutan biologis dari spesies purba. Dampak psikologis teori ini jauh melampaui lembar-lembar buku sains. Sebagaimana dijelaskan Bertrand Russell, filsafat seharusnya menjadi penguji kritis terhadap prasangka dan kepercayaan. Namun, filsafat modern justru terjebak dalam lorong gelap materialisme. Sigmund Freud kemudian melengkapi narasi ini dengan memandang manusia sebagai makhluk bumi yang didorong sepenuhnya oleh libido. Baginya, agama hanyalah proyeksi psikologis dari Oedipus complex, dan Tuhan tak lebih dari ilusi kolektif.

Dunia yang kini dipenuhi oleh kemajuan industri dan kecanggihan teknologi justru melahirkan kekosongan spiritual. Kematian nilai-nilai ketuhanan dalam otoritas sains mencapai titik nadirnya di Hiroshima dan Nagasaki. Di tengah kehampaan itulah, suara-suara eksistensialisme mulai terdengar kencang. Tokoh seperti Jean-Paul Sartre menawarkan kebebasan mutlak tanpa arah, sembari menuding agama sebagai penjara bagi para pengecut yang menciptakan surga demi melarikan diri dari eksistensi duniawi.

Namun, benarkah manusia sesederhana itu? Alexis Carrel, peraih Nobel di bidang bedah dan fisika, justru bersikap skeptis terhadap kemajuan sains dalam memahami manusia. Dalam buku Man the Unknown, ia mengakui bahwa batin manusia tetap menjadi daerah tak terbatas yang belum terpetakan. Pengetahuan medis hanya menyentuh cangkang fisik, namun gagal membedah kompleksitas hakikat manusia yang sebenarnya. Keterlambatan pembahasan tentang manusia inilah yang membuat kita, menurut Carrel, tampak seperti iring-iringan bayangan yang berjalan di tengah hakikat yang gelap.

Di sinilah Al-Quran masuk sebagai intepretasi alternatif yang radikal. Dalam perspektif wahyu, manusia bukan produk kebetulan dari atom-atom yang bertabrakan. Al-Quran sejak awal memposisikan manusia sebagai makhluk yang memegang mandat besar. Ayat pertama yang turun bahkan menyebut nama manusia hingga dua kali, sebuah pengakuan akan pentingnya subjek ini. Al-Quran tidak menampik sisi material manusia yang berasal dari tanah, yang membuatnya tunduk pada kebutuhan biologis. Namun, ada dimensi ruh yang dihembuskan Tuhan, sebuah elemen non-materi yang tak bisa diukur di laboratorium atau ditangkap oleh mikroskop tercanggih sekalipun.

Dimensi ruh inilah yang menjelaskan mengapa manusia memiliki kecenderungan pada keindahan, kesetiaan, dan pengorbanan hal-hal yang tidak memiliki nilai fungsional secara evolusioner murni. Melalui wahyu, Al-Quran menawarkan jawaban atas kebuntuan filsafat materialis. Ia memberikan arah bahwa perjalanan manusia bukan menuju ketiadaan, melainkan menuju realitas yang Maha Sempurna. Dengan memegang visi ini, manusia tidak lagi merasa terasing di alam semesta yang luas, melainkan merasa hidup dalam dunia yang bermakna dan bertujuan.

(mif)
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya