Benteng Tradisi dan Dilema Nalar: Menimbang Warisan Asyariyah
LANGIT7.ID- Di jantung pemikiran Islam Nusantara, sebuah nama berdiri kokoh tanpa banyak digugat: Abu al-Hasan al-Asyari. Namanya bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan ruh dari struktur keyakinan mayoritas muslim di Indonesia. Dalam buku Islam Doktrin dan Peradaban, cendekiawan Nurcholish Madjid membedah anatomi paham ini dengan pisau bedah yang jernih. Cak Nur, sapaan akrabnya, mengajak kita melihat Asyariyah bukan sebagai dogma kaku, melainkan sebuah fenomena intelektual yang memiliki kekuatan sekaligus titik lemah yang perlu ditinjau ulang.
Dominasi Asyariyah di tanah air bukan tanpa alasan. Sebagai bangsa yang mayoritas berafiliasi pada mazhab Syafi'i, penganutan terhadap aqidah Asyari menjadi semacam konsekuensi logis. Bahkan, ormas sebesar Nahdlatul Ulama dalam Muktamar Situbondo 1984 secara eksplisit menegaskan bahwa Ahlusunnah waljamaah adalah mereka yang dalam aqidah mengikuti al-Asyari atau al-Maturidi. Ironisnya, kelompok modernis seperti Muhammadiyah pun, meski sering dianggap berbeda haluan, secara substansial masih bersandar pada pilar-pilar Asyariyah dalam persoalan pokok ketuhanan.
Kekuatan utama paham Asyari terletak pada kemampuannya mengambil jalan tengah (via media). Di saat dunia Islam abad pertengahan terbelah antara rasionalisme ekstrem kaum Mutazilah dan literalisme kaku kaum Hanbali, al-Asyari hadir menawarkan sintesis. Paham ini mengakui otoritas wahyu tanpa sepenuhnya menafikan peran akal. Inilah yang disebut sebagai teologi moderat yang mampu merangkul massa luas karena sifatnya yang inklusif dan tidak konfrontatif terhadap tradisi. Kekuatan ini pula yang menjadikan Asyariyah sebagai faktor stabilitas sosial dalam sejarah panjang peradaban Islam.
Namun, setiap bangunan pemikiran tak luput dari celah. Cak Nur menggarisbawahi bahwa kritik terhadap Asyariyah perlu dilakukan bukan untuk meruntuhkannya, melainkan untuk mencari jalan pengembangan bagi tantangan masa kini. Salah satu kelemahan yang sering disorot oleh para pemikir reformis, mulai dari Ibnu Taymiyyah hingga Muhammad Abduh, adalah kecenderungan Asyariyah yang dalam beberapa aspek dianggap "melemahkan" posisi kemanusiaan di hadapan kekuasaan mutlak Tuhan.
Dalam konsep kasb (usaha), misalnya, kaum Asyari mencoba menjelaskan hubungan antara kehendak Tuhan dan perbuatan manusia. Namun, dalam prakteknya, pemahaman ini sering kali terpeleset menjadi fatalisme atau jabariyah terselubung. Jika segala sesuatu telah ditentukan secara mutlak oleh Tuhan, lantas di mana ruang bagi kreativitas dan tanggung jawab sejarah manusia? Kelemahan ini, jika tidak diantisipasi, dapat menciptakan masyarakat yang pasif dan kurang kompetitif di tengah arus modernitas yang menuntut etos kerja tinggi.
Selain itu, metodologi Asyariyah yang sangat kental dengan nuansa dialektika (ilmu kalam) abad pertengahan terkadang terasa berjarak dengan logika sains modern. Penggunaan argumen-argumen atomisme klasik dalam membuktikan wujud Tuhan, meski relevan pada zamannya, memerlukan kontekstualisasi agar tetap sinkron dengan penemuan fisika kontemporer. Tanpa upaya pembaruan, aqidah yang seharusnya menjadi penggerak peradaban justru hanya akan menjadi pengulangan hafalan di bangku-bangku madrasah.
Relevansi membicarakan kekuatan dan kelemahan Asyariyah hari ini adalah upaya untuk menemukan sumbangan positif bagi kehidupan bangsa. Jika sisi positifnya—yakni moderasi dan toleransi—terus dikembangkan, Islam Indonesia akan tetap menjadi model Islam yang damai. Namun, jika sisi negatifnya—seperti kecenderungan anti-rasionalitas di level tertentu—dibiarkan, maka umat akan sulit keluar dari stagnasi intelektual.
Meminjam perspektif Fazlur Rahman dalam bukunya Islam and Modernity, pembaruan teologis mengharuskan umat untuk kembali pada spirit Al-Quran yang dinamis. Asyariyah harus dipandang sebagai jembatan, bukan tembok. Mengenali segi-segi negatifnya, sebagaimana disarankan Cak Nur, adalah cara untuk menghindari keterjebakan dalam romantisme masa lalu. Tujuan akhirnya jelas: mentransformasikan doktrin Asyariyah menjadi energi spiritual yang mampu menjawab problem kemiskinan, ketidakadilan, dan keterbelakangan teknologi.
Paham Asyari adalah warisan yang sangat luas pengaruhnya. Meninjau kembali posisinya di tengah filsafat dan sains hari ini bukan berarti meninggalkan identitas sunni, melainkan memperkokoh aqidah agar lebih fungsional. Di tangan para pemikir dan penggerak hari ini, masa depan Asyariyah di Indonesia ditentukan: apakah ia akan terus menjadi jangkar ketenangan yang pasif, atau berevolusi menjadi kompas kemajuan peradaban.