Wali Kota New York Zohran Mamdani Berpidato Dengan Progresif Kritik Politik Kepuasan Diri
Tim langit 7
Sabtu, 03 Januari 2026 - 09:20 WIB
Wali Kota New York Zohran Mamdani Berpidato Dengan Progresif Kritik Politik Kepuasan Diri
LANGIT7.ID-Jika ada harapan bahwa Wali Kota New York Zohran Mamdani akan bergeser ke tengah atau menarik hati Demokrat moderat saat meluncurkan pemerintahannya, harapan itu lenyap ditelan hawa dingin Januari yang menandai dimulainya masa jabatannya.
Dalam pidato pelantikannya pada Kamis, Mamdani berusaha menyampaikan pesan yang jelas: kaum kiri telah memenangkan perlombaan ketat untuk kursi wali kota, dan pemerintahannya sekarang bertekad menunjukkan kepada seluruh negeri bahwa kaum liberal progresif pada kenyataannya bisa memerintah.
Di tengah masa perpecahan politik yang dalam di seluruh AS, Mamdani berpegang teguh pada identitas dan ideologi politiknya. Ia mengingatkan kerumunan bahwa ia "terpilih sebagai seorang sosialis demokrat," berjanji akan "memerintah sebagai seorang sosialis demokrat," serta mengecam politik kepuasan diri dan para elit politik yang dianggap telah gagal memenuhi kebutuhan konstituennya.
Ini adalah pidato progresif yang tak meminta maaf, di mana Mamdani menggambarkan partai Demokrat arus utama sebagai partai yang kekurangan imajinasi dan ambisi. Kemudian, ia bersumpah untuk tidak "meninggalkan prinsip-prinsip saya hanya karena takut dianggap radikal."
Itu adalah standar yang tinggi bagi seorang wali kota baru yang mengambil alih kendali sebuah kota rumit di dalam lanskap politik yang sering menuntut kompromi.
Sebelum berhasil merebut kursi wali kota, Mamdani menunjukkan kesediaannya untuk membuat konsesi dan menarik diri dari beberapa posisi kontroversial. Misalnya, selama kampanye, Mamdani terpaksa menjaga jarak dari kritiknya sebelumnya terhadap Departemen Kepolisian New York dan seruannya untuk mengurangi pendanaan lembaga tersebut.
Namun pada Kamis itu, wali kota baru itu berusaha menghapus segala kesan bahwa ia akan melunakkan agendanya.
Dalam pidato pelantikannya pada Kamis, Mamdani berusaha menyampaikan pesan yang jelas: kaum kiri telah memenangkan perlombaan ketat untuk kursi wali kota, dan pemerintahannya sekarang bertekad menunjukkan kepada seluruh negeri bahwa kaum liberal progresif pada kenyataannya bisa memerintah.
Di tengah masa perpecahan politik yang dalam di seluruh AS, Mamdani berpegang teguh pada identitas dan ideologi politiknya. Ia mengingatkan kerumunan bahwa ia "terpilih sebagai seorang sosialis demokrat," berjanji akan "memerintah sebagai seorang sosialis demokrat," serta mengecam politik kepuasan diri dan para elit politik yang dianggap telah gagal memenuhi kebutuhan konstituennya.
Ini adalah pidato progresif yang tak meminta maaf, di mana Mamdani menggambarkan partai Demokrat arus utama sebagai partai yang kekurangan imajinasi dan ambisi. Kemudian, ia bersumpah untuk tidak "meninggalkan prinsip-prinsip saya hanya karena takut dianggap radikal."
Itu adalah standar yang tinggi bagi seorang wali kota baru yang mengambil alih kendali sebuah kota rumit di dalam lanskap politik yang sering menuntut kompromi.
Sebelum berhasil merebut kursi wali kota, Mamdani menunjukkan kesediaannya untuk membuat konsesi dan menarik diri dari beberapa posisi kontroversial. Misalnya, selama kampanye, Mamdani terpaksa menjaga jarak dari kritiknya sebelumnya terhadap Departemen Kepolisian New York dan seruannya untuk mengurangi pendanaan lembaga tersebut.
Namun pada Kamis itu, wali kota baru itu berusaha menghapus segala kesan bahwa ia akan melunakkan agendanya.