Bukan Sekadar Arsip, Menteri Kebudayaan Ingin Sejarah Indonesia Jadi Inspirasi Film dan Teater
Tim langit 7
Sabtu, 03 Januari 2026 - 22:20 WIB
Bukan Sekadar Arsip, Menteri Kebudayaan Ingin Sejarah Indonesia Jadi Inspirasi Film dan Teater
LANGIT7.ID-Jakarta; Dalam rangka penulisan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mendorong adanya hilirisasi penulisan buku sejarah. Membud menyampaikan bahwa penulisan buku ini tidak hanya sebagai upaya dokumentasi akademik, namun juga sebagai dasar hilirisasi budaya yang dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Penegasan ini disampaikan dalam sambutannya pada Gelar Wicara Sejarah bertajuk “Menegaskan Keindonesiaan di Tengah Arus Global: Penguatan Literasi dan Refleksi Sejarah” yang diselenggarakan di Gedung A, Kompleks Kementerian Kebudayaan, Jakarta.
Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa penulisan sejarah merupakan tantangan sekaligus tanggung jawab bersama para ilmuwan Indonesia, mulai dari sejarawan, arkeolog, antropolog, hingga sosiolog. Menurutnya, sejarah tidak cukup hanya diwariskan melalui tradisi tutur, tetapi harus dituliskan agar menjadi pengetahuan yang abadi dan dapat terus dikembangkan.
“Ini merupakan tantangan bagi para ilmuwan, sejarawan, arkeolog, antropolog, dan sosiolog kita. Apa yang bisa kita berikan bagi bangsa ini, paling tidak menuliskan. Dari tulisan itu akan lahir pengembangan dan kemanfaatan,” ujar Menteri Kebudayaan dalam keterangan resmi, Sabtu (3/1/2026).
Dirinya menekankan bahwa naskah sejarah yang ditulis secara serius tidak berhenti sebagai arsip atau bacaan terbatas, melainkan perlu didorong ke arah hilirisasi melalui berbagai bentuk pemanfaatan budaya. Naskah sejarah, menurutnya, dapat menjadi sumber pengembangan karya kreatif seperti film, teater, dan medium seni lainnya yang mampu menjangkau publik lebih luas sekaligus memperkuat literasi sejarah masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan juga menyoroti pentingnya upaya reinventing Indonesian identity atau menemukan kembali dan menyempurnakan identitas keindonesiaan di tengah derasnya arus globalisasi.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita menemukan kembali, melengkapi, dan menyempurnakan identitas nasional Indonesia. Ini sangat pokok, tetapi mungkin belum kita elaborasi lebih jauh,” tegasnya.
Menteri Kebudayaan menilai, selama ini banyak catatan sejarah Nusantara ditulis oleh peneliti asing, sementara bangsa Indonesia sendiri belum sepenuhnya memiliki budaya menulis sejarah secara konsisten. Oleh karena itu, kehadiran Kementerian Kebudayaan diharapkan dapat mendorong lahirnya karya-karya sejarah yang ditulis oleh sejarawan Indonesia dengan perspektif dan kepentingan nasional.
Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa penulisan sejarah merupakan tantangan sekaligus tanggung jawab bersama para ilmuwan Indonesia, mulai dari sejarawan, arkeolog, antropolog, hingga sosiolog. Menurutnya, sejarah tidak cukup hanya diwariskan melalui tradisi tutur, tetapi harus dituliskan agar menjadi pengetahuan yang abadi dan dapat terus dikembangkan.
“Ini merupakan tantangan bagi para ilmuwan, sejarawan, arkeolog, antropolog, dan sosiolog kita. Apa yang bisa kita berikan bagi bangsa ini, paling tidak menuliskan. Dari tulisan itu akan lahir pengembangan dan kemanfaatan,” ujar Menteri Kebudayaan dalam keterangan resmi, Sabtu (3/1/2026).
Dirinya menekankan bahwa naskah sejarah yang ditulis secara serius tidak berhenti sebagai arsip atau bacaan terbatas, melainkan perlu didorong ke arah hilirisasi melalui berbagai bentuk pemanfaatan budaya. Naskah sejarah, menurutnya, dapat menjadi sumber pengembangan karya kreatif seperti film, teater, dan medium seni lainnya yang mampu menjangkau publik lebih luas sekaligus memperkuat literasi sejarah masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan juga menyoroti pentingnya upaya reinventing Indonesian identity atau menemukan kembali dan menyempurnakan identitas keindonesiaan di tengah derasnya arus globalisasi.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita menemukan kembali, melengkapi, dan menyempurnakan identitas nasional Indonesia. Ini sangat pokok, tetapi mungkin belum kita elaborasi lebih jauh,” tegasnya.
Menteri Kebudayaan menilai, selama ini banyak catatan sejarah Nusantara ditulis oleh peneliti asing, sementara bangsa Indonesia sendiri belum sepenuhnya memiliki budaya menulis sejarah secara konsisten. Oleh karena itu, kehadiran Kementerian Kebudayaan diharapkan dapat mendorong lahirnya karya-karya sejarah yang ditulis oleh sejarawan Indonesia dengan perspektif dan kepentingan nasional.