Sejumlah Kades di Tapteng Sebut PT TBS Tak Ada Kaitan Penyebab Bencana Banjir
Dwi sasongko
Selasa, 13 Januari 2026 - 10:27 WIB
Foto drone Aek Nahombar bukti longsor dari lahan warga, bukan PT TBS. Riset IPB tegaskan aktivitas perusahaan bukan pemicu utama banjir bandang. Dok: IPB University
LANGIT7.ID-Jakarta; Kajian ilmiah IPB University menyatakan bahwa aktivitas PT Tri Bahtera Srikandi (PT TBS) tidak menunjukkan bukti kuat sebagai penyebab utama (dominant cause) banjir bandang dan longsor di Daerah Aliran Singai (DAS) Aek Garoga, Sumatera Utara, ternyata senapas dengan keterangan para kepala desa di sekitar lokasi bencana. Sejumlah kepala desa di Sumatera Utara melakukan klarifikasi bahwa pihak PT TBS bukan menjadi penyebab banjir bandang di sana.
Salah satunya Kepala Desa Hutagurgur, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, Rinto Harean Sibabangun. ‘’Tidak ada kayu gelondongan yang hanyut ke aliran sungai hutagurgur yang berasal dari bukaan lahan PT TBS pada saat terjadi bencana alam di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah,’’ kata Rinto Harean Sibabangun dalam pernyataan tertulis yang disertai materai. Dalam surat pernyataan tersebut, tertulis dua warga yang menjadi saksi adalah Gabe Panggabean dan Dedi Simanungkali.
Senada, Kepala Desa Anggoli, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah Olaan Pasaribu. Dia mengungkapkan yang membuka lahan sepanjang alur Sungai Muaran dan Sungai Si Bio-bio adalah masyarakat setempat yang sebagian menanam karet, durian, dan sebagian lagi menanam kelapa sawit untuk kebutuhan hidup.
‘’Bahwa lahan yang dibuka masyarakat tersebut masuk dalam Izin Lokasi PT Tri Bahtera Srikandi (TBS), disebabkan masyarakat tidak bersedia diganti rugi dan mereka telah menguasai secara turun temurun,’’ papar Olaan Pasaribu. Dia juga menyampaikan kesaksiannya bahwa longsor yang terjadi bukan berasal dari lahan perkebunan PT TBS melainkan dari lahan masyarakat.
Selain itu, Kepala Desa Simanosor, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, Tua Pandapotan Batubara menyatakan yang membuka lahan sepanjang Sungai Si Bio-bio adalah masyarakat setempat yang sebagian menanam karet, durian, dan sebagian lagi menanam kelapa sawit untuk kebutuhan hidup.
‘’Sepengetahuan saya longsor yang terjadi bukan berasal dari lahan perkebunan PT TBS melainkan dari lahan masyarakat,’’ ungkap Tua Pandapotan Batubara yang juga menuliskan pernyataan secara bermaterai. Dimana, menurutnya, lahan yang dibuka masyarakat tersebut masuk dalam Izin Lokasi PT TBS, disebabkan masyarakat tidak bersedia diganti rugi dan mereka telah menguasai secara turun temurun.
Mengutip Mohganews, Kepala Desa Hutagodang, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Adamal Tampubolon secara terbuka meminta maaf sekaligus klarifikasi kepada pihak PT TBS. Karena pernyataan sebelumnya dia sempat menyebut perusahaan tersebut sebagai penyebab banjir bandang di wilayahnya.
Salah satunya Kepala Desa Hutagurgur, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, Rinto Harean Sibabangun. ‘’Tidak ada kayu gelondongan yang hanyut ke aliran sungai hutagurgur yang berasal dari bukaan lahan PT TBS pada saat terjadi bencana alam di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah,’’ kata Rinto Harean Sibabangun dalam pernyataan tertulis yang disertai materai. Dalam surat pernyataan tersebut, tertulis dua warga yang menjadi saksi adalah Gabe Panggabean dan Dedi Simanungkali.
Senada, Kepala Desa Anggoli, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah Olaan Pasaribu. Dia mengungkapkan yang membuka lahan sepanjang alur Sungai Muaran dan Sungai Si Bio-bio adalah masyarakat setempat yang sebagian menanam karet, durian, dan sebagian lagi menanam kelapa sawit untuk kebutuhan hidup.
‘’Bahwa lahan yang dibuka masyarakat tersebut masuk dalam Izin Lokasi PT Tri Bahtera Srikandi (TBS), disebabkan masyarakat tidak bersedia diganti rugi dan mereka telah menguasai secara turun temurun,’’ papar Olaan Pasaribu. Dia juga menyampaikan kesaksiannya bahwa longsor yang terjadi bukan berasal dari lahan perkebunan PT TBS melainkan dari lahan masyarakat.
Selain itu, Kepala Desa Simanosor, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, Tua Pandapotan Batubara menyatakan yang membuka lahan sepanjang Sungai Si Bio-bio adalah masyarakat setempat yang sebagian menanam karet, durian, dan sebagian lagi menanam kelapa sawit untuk kebutuhan hidup.
‘’Sepengetahuan saya longsor yang terjadi bukan berasal dari lahan perkebunan PT TBS melainkan dari lahan masyarakat,’’ ungkap Tua Pandapotan Batubara yang juga menuliskan pernyataan secara bermaterai. Dimana, menurutnya, lahan yang dibuka masyarakat tersebut masuk dalam Izin Lokasi PT TBS, disebabkan masyarakat tidak bersedia diganti rugi dan mereka telah menguasai secara turun temurun.
Mengutip Mohganews, Kepala Desa Hutagodang, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Adamal Tampubolon secara terbuka meminta maaf sekaligus klarifikasi kepada pihak PT TBS. Karena pernyataan sebelumnya dia sempat menyebut perusahaan tersebut sebagai penyebab banjir bandang di wilayahnya.