Menimbang Porsi Puasa Sya’ban: Penuh atau Sebagian?
Miftah yusufpati
Kamis, 22 Januari 2026 - 05:45 WIB
Syaban adalah bulan pelaporan amal di tengah kelalaian manusia sebelum Ramadan tiba. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Bagi mereka yang mendamba kedekatan spiritual, bulan Sya’ban bukan sekadar penanda kalender. Ia adalah oase terakhir sebelum memasuki maraton Ramadan. Namun, sebuah diskusi menarik muncul di kalangan umat dan pakar hukum Islam: sejauh mana seorang hamba dianjurkan berpuasa di bulan ini? Apakah harus menuntaskannya sebulan penuh tanpa jeda, ataukah ada batasan yang harus dijaga?
Ketegangan interpretasi ini berangkat dari kesaksian para istri Nabi yang terekam dalam literatur hadits. Ummu Salamah radhiallahu anha, dalam riwayat Abu Daud dan An-Nasa'i, memberikan pernyataan yang cukup lugas:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلا أَنَّهُ كَانَ يَصِلُ شَعْبَانَ بِرَمَضَانَ .
"Aku tidak melihat Rasulullah sallahu’alaihi wa sallam berpuasa dua bulan secara berurutan kecuali beliau melanjutkan bulan Sya’ban dengan Ramadhan."
Pernyataan ini seolah memberikan lampu hijau bagi siapapun yang ingin melakukan puasa Sya’ban secara totalitas.
Namun, dalam sejarah, Aisyah radhiallahu anha memberikan warna lain yang lebih bernuansa. Dalam riwayat Muslim nomor 1156, Aisyah menuturkan bahwa meskipun Nabi sangat sering berpuasa di bulan Sya’ban, beliau tidak melakukannya secara mutlak sebulan penuh.
كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ ، كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلا قَلِيلا
Ketegangan interpretasi ini berangkat dari kesaksian para istri Nabi yang terekam dalam literatur hadits. Ummu Salamah radhiallahu anha, dalam riwayat Abu Daud dan An-Nasa'i, memberikan pernyataan yang cukup lugas:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلا أَنَّهُ كَانَ يَصِلُ شَعْبَانَ بِرَمَضَانَ .
"Aku tidak melihat Rasulullah sallahu’alaihi wa sallam berpuasa dua bulan secara berurutan kecuali beliau melanjutkan bulan Sya’ban dengan Ramadhan."
Pernyataan ini seolah memberikan lampu hijau bagi siapapun yang ingin melakukan puasa Sya’ban secara totalitas.
Namun, dalam sejarah, Aisyah radhiallahu anha memberikan warna lain yang lebih bernuansa. Dalam riwayat Muslim nomor 1156, Aisyah menuturkan bahwa meskipun Nabi sangat sering berpuasa di bulan Sya’ban, beliau tidak melakukannya secara mutlak sebulan penuh.
كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ ، كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلا قَلِيلا