Proyek Dewan Perdamaian Gaza: Solusi Rekonstruksi atau Jebakan Diplomasi Trump?
Oleh: Anwar Abbas
LANGIT7.ID-Gagasan Donald Trump untuk membentuk Dewan Perdamaian Gaza belakangan ini mencuat sebagai wacana besar dalam upaya rekonstruksi wilayah yang hancur akibat konflik. Di atas kertas, inisiatif ini tampak mulia: menyusun kerangka kerja, mengoordinasikan pendanaan, dan menyiapkan Otoritas Palestina untuk kembali memimpin Gaza secara efektif. Namun, jika membedah rekam jejak dan realitas politik di baliknya, proyek ini justru menyimpan kontradiksi tajam yang berpotensi merugikan perjuangan kemerdekaan Palestina.
Rekonstruksi di Atas Ironi Keterlibatan AS
Sangat sulit untuk memisahkan peran Amerika Serikat dari kehancuran yang terjadi di Gaza. Sebagai pendukung utama Israel, AS secara historis berada di barisan terdepan dalam menyokong kekuatan militer yang meluluhlantakkan wilayah tersebut. Menjadi sebuah ironi besar ketika negara yang turut bertanggung jawab atas kehancuran sebuah wilayah, kini justru tampil sebagai inisiator pembangunan kembali dengan mengajak negara-negara lain untuk patungan pendanaan.
Muncul pertanyaan krusial: mengapa tanggung jawab penuh tidak diambil oleh mereka yang membiarkan kehancuran itu terjadi? Mengajak negara-negara Timur Tengah untuk mendanai Dewan Perdamaian ini terkesan seperti upaya pengalihan beban tanggung jawab moral dan finansial.
Trauma Diplomasi Masa Lalu