Sudan: Tragedi Kemanusiaan Terbesar Abad ke-21 dan Panggilan Konstitusional Indonesia
Oleh: Anwar Abbas
LANGIT7.ID-Jakarta; Dunia hari ini sedang menyaksikan salah satu luka paling menganga dalam sejarah modern. Sudan, negara yang pernah berjuang melepaskan diri dari belenggu kediktatoran, kini justru terperosok ke dalam jurang kehancuran akibat ambisi kekuasaan. Perang saudara yang meletus sejak April 2023 bukan sekadar konflik bersenjata biasa; ini adalah tragedi kemanusiaan terbesar di abad ke-21 yang menuntut perhatian serius dari komunitas internasional, termasuk Indonesia.
Perebutan Supremasi Dua Jenderal
Akar dari petaka ini bermuara pada perseteruan antara dua sosok yang dulunya merupakan sekutu dekat: Abdel Fattah al-Burhan, pemimpin Angkatan Bersenjata Sudan (SAF), dan Mohammed Hamdan Dagalo (Hemedti), kepala kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF).
Keduanya sempat bahu-membahu menggulingkan Omar al-Bashir yang berkuasa selama tiga dekade. Namun, aliansi itu kini berubah menjadi permusuhan berdarah demi meraih supremasi tunggal. Konflik ini semakin diperkeruh oleh tuduhan keterlibatan aktor luar negeri, di mana pihak SAF menuding Uni Emirat Arab (UEA) berada di balik dukungan terhadap RSF—sebuah klaim yang secara konsisten dibantah oleh UEA.
Angka yang Mengguncang Nurani