home global news

Klaim Nepotisme, Ekspropriasi Tambang Emas: Mengapa Investor Melakukan Aksi Jual Massal Saham Indonesia

Sabtu, 31 Januari 2026 - 15:33 WIB
Klaim Nepotisme, Ekspropriasi Tambang Emas: Mengapa Investor Melakukan Aksi Jual Massal Saham Indonesia
LANGIT7.ID-Melbourne; Pemerintah Indonesia bergegas menenangkan investor pekan ini setelah kerugian pasar saham senilai US$80 miliar (setara S$101 miliar), yang dipicu oleh kekhawatiran yang meningkat terkait tata kelola dan transparansi pasar.

Hal ini terjadi setelah pekan sebelumnya, rupiah terdepresiasi ke level terendah dalam sejarah, dan memperburuk kecemasan yang sudah berlangsung lama terkait ketidakhati-hatian fiskal Indonesia, kekhawatiran atas nepotisme, dan intervensi negara yang agresif.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hampir 9% pada 28 Januari setelah MSCI mengeluarkan peringatan bahwa mereka mungkin menurunkan peringkat Indonesia dari ekonomi pasar berkembang (emerging market) menjadi ekonomi pasar frontier (frontier market). Alasannya adalah kekhawatiran atas kemampuan investasi saham lokal. Penyedia indeks tersebut menyatakan akan segera menghentikan sementara perubahan indeks tertentu, termasuk penambahan saham, hingga regulator mengatasi kekhawatiran terkait kepemilikan saham perusahaan yang terlalu terkonsentrasi.

Ini menggema pada kekhawatiran lama investor mengenai transparansi "free float", atau porsi saham perusahaan yang tersedia untuk perdagangan publik. Banyak saham diduga hanya diperdagangkan tipis dan secara efektif dikendalikan oleh kelompok kecil individu kaya, membuat mereka rentan terhadap manipulasi harga.

Dalam upaya menenangkan pasar, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan jaminan reformasi pasar saham pada taklimat media 30 Januari. Dia menguraikan langkah-langkah baru untuk memperdalam pasar saham, termasuk menaikkan free float minimum wajib bagi perusahaan terbuka dari 7,5% menjadi 15% pada Maret, dan mengizinkan dana pensiun serta asuransi menginvestasikan hingga 20% portofolio mereka di ekuitas, naik dari batas saat ini sebesar 8%.

Sekitar 45,5 triliun rupiah (setara S$3,4 miliar) saham dibuang hanya pada tanggal 28 Januari, dengan IHSG ditutup turun 7,4%. Namun, Airlangga menyoroti bahwa indeks tersebut pulih pada 30 Januari, dan menekankan komitmen pemerintah terhadap stabilitas pasar. "Fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter berjalan dengan baik," tambahnya.

Pada hari yang sama, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, Wakilnya Mirza Adityaswara, dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengajukan pengunduran diri secara bersamaan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya