home global news

Wujudkan Ekosistem Baterai Nasional, PLN Kawal Kolaborasi Strategis IBC dan Mitra

Senin, 02 Februari 2026 - 11:17 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pimpin penandatanganan proyek baterai IBC, ANTAM & HYD guna percepat hilirisasi nasional arahan Presiden Prabowo. Dok: Humas PLN
LANGIT7.ID-Jakarta; Sebagai salah satu pemegang saham PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC), PT PLN (Persero) mendukung langkah kolaborasi IBC dengan mitra strategis dalam mempercepat pengembangan industri baterai yang terintegrasi dari hulu hingga hilir di Indonesia. Inisiatif tersebut ditandai dengan penandatanganan _framework agreement_ antara IBC, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTAM), dan Konsorsium HYD Investment Limited (HYD), pada Jumat (30/1), di Jakarta.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa penandatanganan _framework agreement_ ini menjadi tonggak penting dalam percepatan hilirisasi nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Proyek ini memiliki total nilai investasi mencapai USD 6 miliar dengan rencana kapasitas produksi baterai listrik hingga 20 gigawatt hour (GWh) dan berpotensi menciptakan sekitar 10 ribu lapangan kerja baru.

“Saya ulangi arahan Bapak Presiden Prabowo, bahwa dalam rangka pengelolaan sumber daya alam, baik sekarang maupun ke depan, kita harus memprioritaskan kepentingan negara,” ujar Bahlil dalam keterangan resmi, Senin (2/2/2026).

Bahlil juga menekankan pentingnya keterlibatan aktif perusahaan dan tenaga kerja lokal, baik dalam pengembangan ekosistem baterai dan katoda di Jawa Barat maupun pengembangan tambang, _smelter_, serta pabrik hilirisasi yang akan dibangun di Halmahera Timur, Maluku Utara.

(Penandatanganan _framework agreement_ pengembangan industri baterai terintegrasi antara Indonesia Battery Corporation (IBC), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTAM), dan Konsorsium HYD Investment Limited (HYD), yang dilaksanakan pada Jumat (30/1), di Jakarta. PT PLN (Persero) sebagai salah satu pemegang saham IBC mendukung langkah kolaborasi ini yang dinilai strategis untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik nasional sekaligus sistem pembangkit listrik. Dok: Humas PLN)

“Yang bisa dikerjakan dalam negeri, pakai tenaga kerja dalam negeri. Yang tidak bisa dikerjakan, baru ambil dari luar. Karena ini adalah bagian daripada komitmen kita,” tegas Bahlil.

Bahlil menambahkan bahwa proyek ini tidak hanya mendukung pengembangan kendaraan listrik, namun juga mendukung pengembangan pembangkit listrik hijau, termasuk kebutuhan baterai untuk program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt (GW).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya