Kiamat Sudah Dekat: Epidemi Al-Harj dan Banalitas Nyawa di Ujung Sejarah
Miftah yusufpati
Senin, 02 Februari 2026 - 17:11 WIB
Amanat untuk menjaga eksistensi manusia adalah tugas tertinggi. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dunia hari ini tampak semakin bising oleh berita konflik, namun yang lebih mengerikan adalah bagaimana pembunuhan perlahan menjadi kebisingan latar belakang yang dianggap lumrah. Dari sengketa lahan yang berakhir maut, tragedi dalam rumah tangga, hingga penembakan massal tanpa motif yang jelas. Nyawa manusia, yang dalam banyak tradisi dianggap sakral, kini kerap luruh hanya karena urusan remeh-temeh. Dalam diskursus eskatologi Islam, fenomena ini tidak dilihat sebagai sekadar kegagalan sistem keamanan atau kesehatan mental masyarakat, melainkan sebuah sinyal transisi zaman yang disebut sebagai al-harj.
‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam literatur klasik Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyebutmaraknya pembunuhan diletakkan sebagai salah satu tanda kecil kiamat yang paling krusial. Naskah yang diterbitkan oleh Maktab Dakwah Rabwah ini menarik benang merah antara kekacauan sosial dan hilangnya nilai kemanusiaan secara mendasar.
Pijakan analitisnya bersumber dari riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, yang merekam kegelisahan para sahabat saat mendengar nubuat Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ الْهَرْجُ ، قَالُوا : وَمَا الْهَرْجُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : الْقَتْلُ الْقَتْلُ
Artinya: Tidak akan datang hari kiamat hingga banyak al-harj. Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah al-harj itu?" Beliau menjawab, "Pembunuhan, pembunuhan."
Banalitas Kejahatan dan Kekacauan Motif
Ketajaman nubuat ini terletak pada istilah al-harj yang secara etimologis bermakna kekacauan atau campur aduk. ‘Awadh bin ‘Ali dalam naskah yang diterjemahkan oleh Muh. Khairuddin Rendusara menekankan bahwa pembunuhan di akhir zaman memiliki karakteristik yang unik: ketidakjelasan motif. Dalam beberapa riwayat pendukung yang dijelaskan dalam buku tersebut, disebutkan bahwa kelak akan datang masa di mana pembunuh tidak tahu mengapa ia membunuh, dan yang terbunuh tidak tahu mengapa ia harus kehilangan nyawa.
‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam literatur klasik Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyebutmaraknya pembunuhan diletakkan sebagai salah satu tanda kecil kiamat yang paling krusial. Naskah yang diterbitkan oleh Maktab Dakwah Rabwah ini menarik benang merah antara kekacauan sosial dan hilangnya nilai kemanusiaan secara mendasar.
Pijakan analitisnya bersumber dari riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, yang merekam kegelisahan para sahabat saat mendengar nubuat Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ الْهَرْجُ ، قَالُوا : وَمَا الْهَرْجُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : الْقَتْلُ الْقَتْلُ
Artinya: Tidak akan datang hari kiamat hingga banyak al-harj. Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah al-harj itu?" Beliau menjawab, "Pembunuhan, pembunuhan."
Banalitas Kejahatan dan Kekacauan Motif
Ketajaman nubuat ini terletak pada istilah al-harj yang secara etimologis bermakna kekacauan atau campur aduk. ‘Awadh bin ‘Ali dalam naskah yang diterjemahkan oleh Muh. Khairuddin Rendusara menekankan bahwa pembunuhan di akhir zaman memiliki karakteristik yang unik: ketidakjelasan motif. Dalam beberapa riwayat pendukung yang dijelaskan dalam buku tersebut, disebutkan bahwa kelak akan datang masa di mana pembunuh tidak tahu mengapa ia membunuh, dan yang terbunuh tidak tahu mengapa ia harus kehilangan nyawa.