home masjid

Kiamat Sudah Dekat: Retaknya Fondasi Sosial dan Epidemi Kata-kata Keji

Selasa, 03 Februari 2026 - 15:49 WIB
Kiamat sedang mendekat melalui jari-jari yang ringan mengetik makian, melalui pesan yang tak terbalas kepada orang tua, dan melalui pintu rumah yang tertutup rapat dari sapaan tetangga. Ist
LANGIT7.ID- Dunia hari ini mungkin terasa semakin terhubung secara digital, namun di balik layar gawai yang gemerlap, sebuah ironi sedang berlangsung: manusia semakin terasing dari tetangga sebelah rumahnya dan semakin tajam lisan kepada kerabatnya sendiri. Ujaran kebencian, kata-kata kotor yang dianggap tren, hingga sikap apatis terhadap lingkungan sekitar bukan lagi sekadar masalah etika individual. Dalam kacamata eskatologi Islam, fenomena ini adalah alarm yang menandakan pembusukan tatanan masyarakat dari dalam.

‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalamMukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyebutkan, fenomena ini diulas sebagai tanda kecil kiamat yang mencerminkan hilangnya ruh kemanusiaan. Naskah yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah ini membedah bagaimana tiga pilar sosial—lisan, keluarga, dan lingkungan—sedang berada di titik nadir.

Pijakan nubuat ini bersumber dari riwayat Imam Ahmad dan Al-Hakim, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhu, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan peringatan yang sangat presisi dengan realitas sosiologis hari ini:

وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَظْهَرَ الْفُحْشُ وَالتَّفَاحُشُ وَقَطِيعَةُ الرَّحِمِ وَسُوءُ الْمُجَاوَرَةِ

Artinya: Tidak akan terjadi hari kiamat hingga muncul perbuatan dan perkataan keji, pemutusan silaturahmi, dan jeleknya hubungan bertetangga.

Banalitas Kata Keji di Ruang Publik

Istilah al-fuhsyu wa at-tafahusy merujuk pada segala sesuatu yang melampaui batas, baik dalam tindakan maupun ucapan yang kotor dan menyakitkan. ‘Awadh bin ‘Ali dalam naskah yang diterjemahkan oleh Muh. Khairuddin Rendusara menekankan bahwa di akhir zaman, kata-kata kasar tidak lagi dianggap sebagai aib. Secara sosiologis, kita melihat hal ini dalam budaya internet, di mana perundungan dan makian menjadi konsumsi harian yang seolah-olah kehilangan beban moralnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya