Narasi Kehancuran: Antara Takdir dan Perilaku
Miftah yusufpati
Rabu, 04 Februari 2026 - 05:45 WIB
Pada akhirnya, bumi yang kita pijak tidak pernah benar-benar diam. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Dunia hari ini seolah sedang berdiri di atas retakan yang kian menganga. Bukan sekadar retakan tanah akibat gesekan lempeng tektonik yang lazim dijelaskan dalam buku teks geografi, melainkan sebuah retakan tatanan nilai yang kian rapuh. Di tengah hiruk-pikuk modernitas, fenomena bencana yang datang tiba-tiba sering kali memicu ingatan kolektif pada nubuat lama yang tersimpan dalam lembaran kitab eskatologi.
Salah satu peringatan yang paling mengguncang terekam dalam karya Awadh bin Ali bin Abdullah berjudul Mukhtashar Ashrat al-Saah al-Sughra wa al-Kubra. Buku yang diterjemahkan oleh Muh. Khairuddin Rendusara dan diedit oleh Eko Haryanto Abu Ziyad ini mengulas tanda-tanda kiamat kecil yang berkaitan erat dengan perilaku manusia. Poin krusial dalam ulasan tersebut merujuk pada sebuah riwayat dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang mencatat sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:
يَكُونُ فِي آخِرِ الأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا ظَهَرَ الْخُبْثُ
Pesan ini menggarisbawahi tiga bentuk bencana: khasf (orang-orang yang ditenggelamkan ke dalam bumi), maskh (perubahan raut wajah), dan qadhf (pelemparan batu). Ketika Aisyah bertanya apakah kehancuran tetap akan datang meski masih ada orang saleh di tengah masyarakat, jawaban yang diberikan sangat tegas: Ya, jika kemaksiatan (al-khubth) telah merajalela.
Secara interpretatif, fenomena khasf atau ditenggelamkannya manusia ke dalam bumi dapat dipandang dari kacamata geofisika sebagai likuifaksi atau amblasnya tanah yang masif. Namun, dalam konteks sosial, ini adalah metafora tentang hilangnya pijakan hidup manusia. Ibn Khaldun, pemikir besar abad ke-14 dalam mahakaryanya Muqaddimah, pernah merumuskan bahwa kehancuran sebuah peradaban sering kali dimulai dari kemewahan yang berlebihan dan degradasi moral yang sistemik. Menurut Ibn Khaldun, ketika nafsu telah menjadi panglima, keteraturan alam pun seolah ikut bereaksi terhadap ketidakteraturan perilaku manusia.
Istilah maskh atau perubahan raut wajah sering kali diartikan secara harfiah sebagai transformasi fisik. Namun, banyak pemikir kontemporer yang memberikan interpretasi sosiologis bahwa ini adalah simbol hilangnya rasa malu dan identitas kemanusiaan. Manusia yang kehilangan nurani dan hidup hanya demi pemuasan materi pada akhirnya akan kehilangan cahaya kemuliaan di wajahnya. Wajah manusia berubah bukan secara biologis, melainkan secara maknawi; mereka tampak seperti manusia, namun memiliki tabiat yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.
Sementara itu, qadhf atau pelemparan batu dari langit dapat dihubungkan dengan fenomena meteorik atau bencana atmosfer. Dalam tinjauan ilmiah, benda-benda luar angkasa yang memasuki atmosfer bumi adalah ancaman yang nyata. Akan tetapi, narasi dalam buku Mukhtashar Ashrat al-Saah al-Sughra wa al-Kubra menempatkan peristiwa ini bukan sebagai kebetulan astronomis semata, melainkan sebagai bentuk eksekusi alam atas akumulasi dosa kolektif.
Salah satu peringatan yang paling mengguncang terekam dalam karya Awadh bin Ali bin Abdullah berjudul Mukhtashar Ashrat al-Saah al-Sughra wa al-Kubra. Buku yang diterjemahkan oleh Muh. Khairuddin Rendusara dan diedit oleh Eko Haryanto Abu Ziyad ini mengulas tanda-tanda kiamat kecil yang berkaitan erat dengan perilaku manusia. Poin krusial dalam ulasan tersebut merujuk pada sebuah riwayat dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang mencatat sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:
يَكُونُ فِي آخِرِ الأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا ظَهَرَ الْخُبْثُ
Pesan ini menggarisbawahi tiga bentuk bencana: khasf (orang-orang yang ditenggelamkan ke dalam bumi), maskh (perubahan raut wajah), dan qadhf (pelemparan batu). Ketika Aisyah bertanya apakah kehancuran tetap akan datang meski masih ada orang saleh di tengah masyarakat, jawaban yang diberikan sangat tegas: Ya, jika kemaksiatan (al-khubth) telah merajalela.
Secara interpretatif, fenomena khasf atau ditenggelamkannya manusia ke dalam bumi dapat dipandang dari kacamata geofisika sebagai likuifaksi atau amblasnya tanah yang masif. Namun, dalam konteks sosial, ini adalah metafora tentang hilangnya pijakan hidup manusia. Ibn Khaldun, pemikir besar abad ke-14 dalam mahakaryanya Muqaddimah, pernah merumuskan bahwa kehancuran sebuah peradaban sering kali dimulai dari kemewahan yang berlebihan dan degradasi moral yang sistemik. Menurut Ibn Khaldun, ketika nafsu telah menjadi panglima, keteraturan alam pun seolah ikut bereaksi terhadap ketidakteraturan perilaku manusia.
Istilah maskh atau perubahan raut wajah sering kali diartikan secara harfiah sebagai transformasi fisik. Namun, banyak pemikir kontemporer yang memberikan interpretasi sosiologis bahwa ini adalah simbol hilangnya rasa malu dan identitas kemanusiaan. Manusia yang kehilangan nurani dan hidup hanya demi pemuasan materi pada akhirnya akan kehilangan cahaya kemuliaan di wajahnya. Wajah manusia berubah bukan secara biologis, melainkan secara maknawi; mereka tampak seperti manusia, namun memiliki tabiat yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.
Sementara itu, qadhf atau pelemparan batu dari langit dapat dihubungkan dengan fenomena meteorik atau bencana atmosfer. Dalam tinjauan ilmiah, benda-benda luar angkasa yang memasuki atmosfer bumi adalah ancaman yang nyata. Akan tetapi, narasi dalam buku Mukhtashar Ashrat al-Saah al-Sughra wa al-Kubra menempatkan peristiwa ini bukan sebagai kebetulan astronomis semata, melainkan sebagai bentuk eksekusi alam atas akumulasi dosa kolektif.