Kiamat Sudah Dekat: Gempa Bumi dan Isyarat Akhir Zaman
Miftah yusufpati
Rabu, 04 Februari 2026 - 05:15 WIB
Di tengah kecanggihan mitigasi bencana dan teknologi peringatan dini, manusia tetaplah makhluk yang kecil saat tanah mulai berguncang. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Bumi seolah tidak pernah lagi menemukan waktu untuk beristirahat. Dari palung terdalam di Samudra Hindia hingga patahan aktif di sepanjang Cincin Api, getaran tanah telah menjadi berita rutin yang menghiasi halaman depan surat kabar. Di mata para geolog, ini adalah gerak mekanis lempeng tektonik yang mencari keseimbangan. Namun, bagi mereka yang mendalami literatur keagamaan, rentetan guncangan ini membawa pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar aktivitas seismik.
Penjelasan mengenai fenomena ini terekam dengan jelas dalam buku Mukhtashar Ashrat al-Saah al-Sughra wa al-Kubra karya Awadh bin Ali bin Abdullah. Dalam buku yang diterbitkan oleh IslamHouse pada 2009 ini, penulis membedah berbagai peristiwa alam sebagai bagian dari skenario besar alam semesta. Salah satu rujukan utamanya adalah hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَكْثُرَ الزلازلُ
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan peringatan bahwa hari kiamat tidak akan tiba sebelum peristiwa gempa bumi terjadi dalam jumlah yang banyak. Kata taktsura dalam teks tersebut mengisyaratkan sebuah intensitas yang tidak biasa, sebuah rentetan kejadian yang melampaui statistik normal di masa lalu.
Secara ilmiah, gempa terjadi karena adanya pelepasan energi akibat pergeseran lempeng bumi yang saling menekan atau menjauh.
Interpretasi terhadap teks ini sering kali berhadapan dengan data ilmiah modern. Lembaga seperti United States Geological Survey (USGS) mencatat bahwa setiap tahunnya terjadi jutaan getaran di seluruh dunia. Walaupun kemajuan teknologi sensor membuat deteksi gempa tampak lebih sering, banyak pemikir Islam melihat bahwa esensi dari taktsura bukan hanya soal jumlah, melainkan soal dampak psikologis dan sosiologis yang ditimbulkannya. Peristiwa gempa besar di era modern tidak hanya meruntuhkan bangunan fisik, tetapi juga merobohkan rasa aman manusia atas tempat tinggalnya.
Dalam konteks sosial-politik, maraknya gempa bumi sering kali menyingkap borok birokrasi dan ketimpangan tata ruang. Di sini, teks keagamaan bertemu dengan realitas lapangan: guncangan bumi menjadi alat uji bagi keadilan sosial. Negara-negara yang lalai terhadap standar bangunan yang aman sering kali menjadi panggung bagi maut yang masif. Awadh bin Ali bin Abdullah dalam bukunya menekankan bahwa tanda-tanda ini seharusnya memicu perenungan dan perbaikan diri, bukan sekadar kepanikan tanpa arah.
Penjelasan mengenai fenomena ini terekam dengan jelas dalam buku Mukhtashar Ashrat al-Saah al-Sughra wa al-Kubra karya Awadh bin Ali bin Abdullah. Dalam buku yang diterbitkan oleh IslamHouse pada 2009 ini, penulis membedah berbagai peristiwa alam sebagai bagian dari skenario besar alam semesta. Salah satu rujukan utamanya adalah hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَكْثُرَ الزلازلُ
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan peringatan bahwa hari kiamat tidak akan tiba sebelum peristiwa gempa bumi terjadi dalam jumlah yang banyak. Kata taktsura dalam teks tersebut mengisyaratkan sebuah intensitas yang tidak biasa, sebuah rentetan kejadian yang melampaui statistik normal di masa lalu.
Secara ilmiah, gempa terjadi karena adanya pelepasan energi akibat pergeseran lempeng bumi yang saling menekan atau menjauh.
Interpretasi terhadap teks ini sering kali berhadapan dengan data ilmiah modern. Lembaga seperti United States Geological Survey (USGS) mencatat bahwa setiap tahunnya terjadi jutaan getaran di seluruh dunia. Walaupun kemajuan teknologi sensor membuat deteksi gempa tampak lebih sering, banyak pemikir Islam melihat bahwa esensi dari taktsura bukan hanya soal jumlah, melainkan soal dampak psikologis dan sosiologis yang ditimbulkannya. Peristiwa gempa besar di era modern tidak hanya meruntuhkan bangunan fisik, tetapi juga merobohkan rasa aman manusia atas tempat tinggalnya.
Dalam konteks sosial-politik, maraknya gempa bumi sering kali menyingkap borok birokrasi dan ketimpangan tata ruang. Di sini, teks keagamaan bertemu dengan realitas lapangan: guncangan bumi menjadi alat uji bagi keadilan sosial. Negara-negara yang lalai terhadap standar bangunan yang aman sering kali menjadi panggung bagi maut yang masif. Awadh bin Ali bin Abdullah dalam bukunya menekankan bahwa tanda-tanda ini seharusnya memicu perenungan dan perbaikan diri, bukan sekadar kepanikan tanpa arah.