home masjid

Tanda-Tanda Kiamat: E-commerce dan Ketika Dunia Menjadi Etalase Raksasa

Rabu, 04 Februari 2026 - 04:15 WIB
Kita diajak melihat kembali bahwa hiruk-pikuk pasar hari ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Pusat perbelanjaan kini bukan lagi sekadar bangunan beton dengan eskalator yang bising. Di era internet segalanya, pasar telah bermigrasi ke dalam saku celana, berdenyut dalam algoritma gawai yang menawarkan barang bahkan sebelum keinginan itu benar-benar matang di kepala. Fenomena ini bukan sekadar keberhasilan kapitalisme global, melainkan sebuah fragmen sosiologis yang telah lama terekam dalam literatur eskatologi Islam sebagai tanda-tanda kiamat kecil.

Awadh bin Ali bin Abdullah dalam naskah Mukhtashar Ashrat al-Saah al-Sughra wa al-Kubra menjelaskan bahwa salah satu penanda akhir zaman adalah fushuwu al-tijarah atau merebaknya perdagangan secara masif. Penulis yang bukunya diterjemahkan oleh Muh. Khairuddin Rendusara ini mengutip riwayat dari Imam Ahmad dan al-Hakim yang bersumber dari Abdullah bin Masud Radhiyallahu Anhu. Dalam hadis tersebut, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

بَيْنَ يَدَىِ السَّاعَةِ تَسْلِيمُ الْخَاصَّةِ ، وَفُشُوُّ التِّجَارَةِ حَتَّى تُشَارِكَ الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا فِي التِّجَارَةِ

Makna harfiah dari sabda tersebut menjelaskan bahwa menjelang datangnya hari kiamat, salam hanya diucapkan kepada orang-orang tertentu, dan perdagangan merebak sedemikian rupa hingga seorang wanita turut serta bersama suaminya dalam berdagang.

Jika kita melihat dengan kacamata ekonomi modern, apa yang disebut sebagai merebaknya perdagangan ini menemukan wujudnya dalam konsep masyarakat pasar atau market society. Seorang filsuf politik dari Universitas Harvard, Michael Sandel, dalam bukunya What Money Cant Buy, pernah memperingatkan tentang pergeseran dari sekadar memiliki ekonomi pasar menjadi sebuah masyarakat pasar. Di sini, hampir semua aspek kehidupan manusia—mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga relasi personal—telah dikomodifikasi dan diperdagangkan.

Data dari laporan ekonomi digital sering kali memuja pertumbuhan e-commerce sebagai indikator kemajuan. Namun, dalam perspektif interpretasi teks klasik yang disajikan Awadh bin Ali bin Abdullah, fenomena ini justru dibaca sebagai gejala meluapnya kesibukan duniawi yang melampaui batas. Meluasnya keterlibatan perempuan dalam perdagangan, yang dalam hadis disebut membantu suaminya, kini terlihat nyata dalam ledakan pengusaha mikro dan fenomena pemengaruh (influencer) di media sosial yang menjadikan kehidupan domestik sebagai konten jualan.

Interpretasi ini tidak serta-merta mengharamkan aktivitas ekonomi, namun lebih kepada menyoroti perubahan struktur sosial. Ketika perdagangan menjadi poros utama kehidupan, ruang-ruang spiritualitas sering kali terhimpit. Salam yang hanya diberikan kepada kalangan tertentu—sebagaimana disebut dalam teks tersebut—mencerminkan terkikisnya ukhuwah atau persaudaraan tulus yang digantikan oleh relasi transaksional. Seseorang hanya akan bersikap ramah jika ada kepentingan ekonomi atau kesamaan strata sosial di baliknya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya